Buru-Buru, Sindrom Mahasiswa Tingkat Akhir

“Haaa..ganti judul!”
“literaturnya ngga relevan?”
“Gosh..draft gw direvisi lagi !”
“duh..mau penelitian dimana ya?”

Yup sederet pertanyaan dan pernyataan diatas tergolong rajin” muncul di keseharian mahasiswa tingkat akhir . Berdasarkan survei dan pengalaman (penulis_red), ada satu pertanyaan yang sensitive bangedh (dalem, nyindir, mengundang hikz..hikz sampe badmood berkepanjangan baik secara tampilan wajah alias timbul “wajah miris/jutek/malu” maupun dalam pikiran seseorang) dan dianjurkan untuk tidak mengatakannya secara langsung (bahasa dan intonasi diperhalus githu..) atau klo pengen ngomong juga, kepaksa karena ngga ada bahan omongan…yaaa jangan terlalu sering lah..

Kalimatnya sederhana sih, Cuma “kapan lulus?”. Pendek kan, tapi bagi sebagian besar orang yang saya temui dan survey kecil-kecilan, kalimat ini berefek hebat dan punya “pressure” yang cukup besar. Ngga peduli disampaikan oleh siapa, kalimat “kapan lulus?” punya dampak yang sanggup membuat mahasiswa tingkat akhir down, malu atau bahkan termotivasi. Percaya atau ngga kalimat ini juga berdampak merusak persahabatan gara-gara asumsi bahwa si penanya pengen “pamer”, “nyindir” dan ngga ngertiin sisi psikologis yang ditanya. Jadi, penyampaian kalimat ini oleh orang terdekat kita (orangtua, sahabat, our lover-bagi yang ngga single dan memilih jalan ini-) lebih “Njlep..”nusuk di hati (Ha..ha..ha..ekstrim banget kata-katanya)

The point is, situasi dan kondisi ini jadi suatu dilema tersendiri bagi mahasiswa (baik kk kelas maupun ade kelas). Serba salah, klo nanya takut disangka nyindir, klo ngga nanya disangka ngga care dan pastinya kita pengen tahu perkembangan orang lain.

Gw menganalogikan hal ini dengan “sindrom mahasiswa tingkat akhir”. Meskipun ada aja yang ngga mau ngaku-atau emang bijak menyikapinya dengan sabar-, hal ini menjadi kekhawatiran yang kadang ditanggapi berlebihan.

For me..
You know what the best things for you

Hidup ini pilihan, yang tahu potensi seseorang adalah si orang itu sendiri. Baik kemampuan maupun kelemahan, jadi penentuan langkah terbaik bagi seseorang datangnya dari pemikirannya sendiri (meskipun faktor lain seperti dukungan, saran dan kritik orang-orang sekitar, doa dan kuasa Allah/Sang Pencipta, pengalaman turut ambil bagian), dan pembelajarannya memaknai hidup ini-bersyukur pada Allah-.

Emangnya hidup ini untuk buru-buru lulus kuliah aja, bersikap panik dan kadang nyalahin diri sendiri karena ngga lulus-lulus…it’s to naïf (maap klo ada yang tersinggung). Gw setuju banget klo hidup ini harus terencana (bahkan dalam sebuah buku disebutkan, ciri seorang muslim prestatif sejati adalah punya perencanaan hidup, baik di dunia maupun mempersiapkan “bekal” di akhirat nanti). Tapi gw ngga sependapat klo kita “dibebani oleh target hidup, termasuk lulus kuliah”

Hidup merupakan proses yang mesti dinikmati tiap langkahnya, pait kek..manis kek..pokoe berbagai rasa ada. Toh bersyukur dengan tiap sikon yang kita terima membuat hidup ini terasa lebih ringan, karena percaya bahwa Allah menciptakan segala sesuatu tidak untu sia-sia…dan perlahan sindrom mahasiswa tingkat akhir yang dirasakan menjadi sesuatu yang wajar, penuh hikmah dan memotivasi untuk kembali semangat.

Letto bilang ”Ingat tuk mulai lagi”

Jangan salah, gw sering bangedh kena sindrom ini (entah karena ego, gengsi atau naïf), tapi dengan berusaha kita pasti bisa meredam dan menyikapinya dengan lebih bijaksana (cihui….gw suka banget ma kalimat ini). Sesuatu yang baik juga mesti dilengkapi ma proses yang baik, ngga pengen kan
cepet lulus trus sibuk plagiat sana-sini, stress gara-gara mandek ide coz
kebanyakan mikir kemungkinan terburuk.

Take it easy
Bersyukur itu bukan berarti pasrah, tapi semangat
berusaha-pake doa- dan PUNYA RENCANA juga ngga BURU-BURU BERTINDAK.
Dengan tenang kita bisa bilang “sindrom oh sindrom…it’s natural in life”

‘Met baca guyz..hopefully it will be useful
-not just for me, but also for U-

2 thoughts on “Buru-Buru, Sindrom Mahasiswa Tingkat Akhir

  1. miphz says:

    Gajebo, ga jelas bo, abu-abu gitu rasanya. Hidup ini bagai diterpa sesuatu yang mengusik inti kestabilan sistem emosional. Kirain symptoms semacam ini cuma saya yang ngerasain, setelah bertanya ke gudang jawaban (google) segaris senyuman terlukis di wajah saya, sepercik pelangi terlukis di hadapan saya. http://themiphz.wordpress.com/2009/12/31/quarterlifecrysis/ Namanya quarter life crisis, saat usia kita menginjak twenty something, then something changed. 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s