Rumah: penampung “sampah”, pembawa berkah

VeniceVenice2

“Ah..seru juga menabur cinta dengan tinggal di Venesia atau Dublin seperti referensi Tika. Eropa memang menggiurkan jiwa pengelana yang ingin mengeksplorasi seni, budaya dan sastra. Namun sejak Laskar Pelangi menggelorakan nasionalisme lewat scene indahnya, sejak itu pula saya kembali mencintai negeri bergelar zamrud khatulistiwa”.

Angan sebenarnya enggan beranjak, hingga riuh rendah kota menyadarkan kembali, bahwa di Jakartalah kini saya bermukim, bukan di Yogya yang sederhana. Jakarta..kota yang tempo hari bersolek dengan modernitas ditengah akulturasi budaya yang sibuk mencari celah untuk tetap eksis. Kota yang menghidupi berjuta jiwa, termasuk saya. Maka impian memiliki rumah tetap berpijak pada pertimbangan akses strategis ke seluruh wilayah Jakarta. Tentunya saya tak ingin melewatkan petualangan menjelajah wisata kuliner, wisata belanja, wisata sejarah, wisata budaya hingga wisata religi yang ditawarkan Jakarta, sang ibukota.

Sempat ngiler melihat deretan town house atau kilau fasilitas apartemen, belum lagi beragam pilihan rumah yang dipajang propertykita.com, rasanya saya siap berinvestasi. Rencana disusun, pundi-pundi dibuat tambun, saya dan suami mendatangi sejumlah pameran perumahan, mencermati katalog hunian, mempertimbangkan saran ahli, dan memperkaya referensi. Kamipun tersenyum simpul, membayangkan kunci rumah impian sudah ditangan.

“Rumah adalah inspirasi, bersamanya kita tumbuh berkembang mencapai jati diri”

Rumah impian saya tak jauh dari “tempat sampah”, mencerminkan gaya hidup dan karakter pemiliknya. Mengapa tidak? bukankah rumah menjadi tempat menampung curhat, ide hingga limbah asli penghuninya :D, jadi keberadaannya tak sekedar function melainkan passion. Cukuplah tiga syarat tadi terpenuhi, maka rumah bagi saya tlah membawa berkah.

Sampah “curhat”

Rumah menjadi saksi, romantisme bersama pasangan, rutinitas pergi-pulang kantor, mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak, menyambut keluarga besar dan setumpuk peristiwa yang memicu curahan hati. Sedih dan bahagia, suka duka, tangis tawa terekam dalam jejak dinding, lantai, atap dan perabot rumah. Tiap rumah memiliki sejarah para pemiliknya.

Bagi saya, konsep modern minimalis dengan dominasi warna putih gading dan fuschia adalah pilihan sempurna. Kesan hangat dan nyaman dihadirkan sejak awal ketika memasuki ruang tamu, tak banyak barang bertumpuk, cukup sofa lembut berukuran sedang sofa ruang tamu, meja kayu senada, dipercantik satu lukisan besar, akuarium berbentuk elips dan pot berisi bunga segar di sudut ruangan ditambah tiga buah standing lamp bulat dengan beragam ukuran yang memancarkan sinar kuning hangat.

Bagian utama lainnya yakni ruang tidur dibalut warna peach, fuschia dan sedikit nila bedroom. Sesuai fungsinya, ingin memperkuat aura romansa. Garis lengkung pada cabinet, karpet bulu, rak berisi aromaterapi, bathtub serta shower pribadi, lampu bulat dan kursi pijat seolah menggoda saya saat lelah mendera.

Menyusuri lebih jauh, saya bisa menemukan dapur dan ruang makan yang dibatasi minibar, diatasnya terpajang toples-toples kue, keranjang buah dan beberapa tanaman hydrogel menambah warna hydrogel.

Eits..hampir saja lupa, rumah impian saya harus memiliki kamar mandi terpisah dengan toilet, ruang serbaguna untuk cuci-setrika, kamar tamu dan mushola berhiaskan kaligrafi di kaca patri.

Sampah “ide”

Meski dalam bukunya Ndoro Kakung kekeuh mengatakan “ide bergelantung di udara, petik saja”, saya merasakan bahwa di rumahlah beragam ide tercecer, entah di kertas kerja, jurnal harian, laptop dan PC bahkan daftar belanja.

Inilah alasan mengapa ruang menampung ide tampil berbeda, termasuk didalamnya ruang keluarga, perpustakaan mini dan ruang bermain anak. Disinilah, aktivitas pemicu kreativitas lebih diasah, entah melalui kegiatan membaca, menulis, browsing internet, ngobrolin apa saja atau sekedar menghabiskan waktu bersama. Ruang ini mengajak penghuninya saling mengemukakan pendapat, menyusun rencana atau meraih prestasi, setidaknya dimata anggota keluarga yang memahami dan mencintai apa adanya. Mendidik bukanlah proses yang mudah, maka saya akan membebaskan siapapun bereksplorasi dengan ilmu pengetahuan dan inspirasi sebebas mungkin di ruangan-ruangan ini.

Untuk mencegah kesan geometris dan kaku yang ditimbulkan konsep minimalis, saya bermain dengan elemen dekorasi seperti dinding kayu serta interior unik-bermotif-berwarna cerah family room. Ruang keluarga, ruang bermain anak dan perpustakaan mini menyatu tanpa dinding penyekat (open space layout) perpus mini. Gunanya agar anggota keluarga mudah berinteraksi satu sama lain, jika ada..pembatas hanya berbentuk partisi tatami ala Jepang. Ruangan ide ini nantinya memiliki jendela dan bukaan-bukaan besar mengarah ke halaman samping dan belakang, gunanya agar pencahayaan dan pengudaraan alami tetap terjaga. Tujuan memiliki hunian sehat, nyaman dan hemat energipun tercapai

Terpikir juga sih merancang rumah pintar dengan sistem otomatisasi terpadu seperti kepunyaan Bill Gates, saya bisa santai memerintah rumah dari pusat kontrol. Muluk memang..toh tak ada yang menghalangi.

Sampah “beneran”

Akrab dengan polusi dan dibangun sesuka hati, realita ini masih saja berseliweran di Jakarta. Tapi tidak rumah impian saya. Pekarangan depan dan samping sengaja dibuat luas dengan pagar tanaman sebagai batas, tak perlu tinggi karena sosialisasi seolah dihalangi.pagar tanaman

Didalamnya tertanam rumput, bunga taman dan sansevieria. Wawancara radio bersama Ibu Walikota Jakarta Pusat, Dr.Hj.Sylviana Murni beberapa waktu lalu mencerahkan saya tentang tanaman anti polutan yang mampu menjadi gebrakan dalam gerakan penghijauan, Jakarta bangeeeeeet !!! lidah mertua. Ukurannya tak memakan lahan, manfaatnya membuat saya kagum tanpa beban. Tak lupa, balkon bersantai dan carport multifungsi siap melengkapi.

Beralih ke halaman belakang, beberapa tanaman buah tumbuh tanpa alang-alang, rerumputan rapi menantang, kolam ikan melengkung panjang, sebuah saung berdiri tenang saung, saya lantas mengawang..keluarga besar serta teman-teman berkumpul untuk piknik, reuni, arisan, garden party atau sekedar silaturahmi piknikdengan menu rujak ulek, makanan rumah atau barbequean. Inilah hidup !! dinikmati bersama-sama, tanpa diskriminasi berjudul perbedaan antar sesama manusia.

Satu hal lagi, rumah impian saya kelak mengusung atmosfer kampung hijau, mengolah sampah rumah tangga penuh perhatian, siapa tahu perubahan kecil ini menular hingga keseluruh lingkungan, bahkan terdaftar sebagai ikon peta hijau, satu lagi inspirasi yang tak pernah mati.

Setidaknya ritual mengecat rumah menjelang idul fitri, pengalaman membuat maket rumah bersama papa yang notabene arsitek serta cerita-cerita yang mengalir saat makan bersama delapan anggota keluarga lainnya, sebelum saya berumah tangga, memiliki benang merah. Banyak pelajaran yang didapat dari keberadaan sebuah rumah, tak hanya sebagai tempat bernanung atau menampung, rumahlah yang menjadi saksi sejarah bagaimana sebuah keluarga terbentuk dan akhirnya berkembang.

A Great house is a family place for hangout, not just for stop by

Note: untuk mengikuti PropertyKita.com Blogging Competition β€˜09

23 thoughts on “Rumah: penampung “sampah”, pembawa berkah

  1. djghina says:

    @ Moud : untung ngga cerita langsung, bs lebih panjang tuh ^_^
    @ Heri : Hijaukan Jakarta !!!!, buah2annya menggoda mas

    Like

  2. Ayam Cinta says:

    Dari semua yang gw baca tentang yang ikutan kontes ini kayanya punya mba ghina penyajiannya lebih variatif πŸ™‚
    (serasa juri gini gw)

    Anyway, moga menang ya mba kontesnya… πŸ™‚
    (berapa kali ya gw bilang kaya gini? Hahahaha)

    Like

  3. ega says:

    ginaaa

    senang membacanyaaa..bahasa lo bgt..penuh dgn variasi kosakata..
    eh bo…konsep rumah lo oke, menuju green building ya ..yg skrg emg dibawa ke permukaan utk mendukung lingkungan..jgn lupa bbrp titik biopori utk penambah sumur resapan, sklian jd t4 utk pengelolaan sampah organik, bner2 bnyk manfaat lohhh…slain ga nmbah vlume sampah di TPA, jg bs menambah unsur hara tanah, jd pu’un2 rumah lo makin subuuurrr…hihihhi *landscaper bgt yak..

    go ghina utk blogging competitionnyaa….

    Like

  4. djghina says:

    @ Pakde : matur suwun, terima kasih sudah mampir
    @ Zam : itulah kejamnya realita Zam, membuat kita “terbiasa”, padahal Gili Lombok sempat jadi idola
    @ Ega : Wah..belum sampai tahap tidur bareng kamus lho ga :P, iya nih pengen juga lebih konsisten mendukung “green lifestyle”

    Like

  5. djghina says:

    @ Andi : sayah juga ikutan ^_^
    @ Ndra: hayooo..numpukin “sampah” juga ya
    @ Mas Ko : Hehehe..mdah-mudahan ngga terjebak stereotype ya mas, cuma “analogi” kok

    Like

  6. Rusli Zainal | Eros says:

    setiap orang memiliki rumah idaman masing-masing. meskipun saya pun memiliki impian yang muluk dengan rumah yang besar dan mewah full teknologi. dimana semua perangkat terhubung ke komputer dan internet. tapi ya sekedar khayalan. yang terpenting bagi saya rumah itu nyaman dan sehat untuk ditempati sekeluarga. keluarga kecil, bahagia dan cukup lahir batin itu saja.

    oia ditunggu komentar berkualitasnya juga dalam tulisan ‘Rumah Impian…’.cheers..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s