Taksi Pak Yos

Waktu yang sempit dibarengi kemacetan berbelit, memaksa saya berupaya lebih keras menembus belantara jalan ibukota. Mengandalkan kendaraan umum macam bus kota jelas bukan pilihan, ketika diharuskan pulang cepat demi si kecil, saya pun memutuskan membayar lebih untuk naik taksi, bukan taksi bodong, melainkan taksi tarif bawah. Klo bukan taksi putih lampu kuning, atau taksi hijau lampu hijau, ya saya naik taksi biru lampu biru yang mendominasi itu ^^.

Maklumlah, kuli macam saya ini belum mampu membeli kendaraan pribadi, jadi ketika membawa keluarga atau putri mungil saya-Ayesha- wara-wiri, taksi cukuplah buat kami. Suatu malam, sepulang kencan bersama suami :D, kami kembali naik taksi dan memulai ritual ngobrol basa-basi. Mulai dari nanya pul, asal-usul sopir taksi, isu hangat tanah air hingga tiba pada titik bernama kisah pribadi.

Jangan salah, supir taksi yang kerap dianggap remeh, memiliki latar belakang profesi yang mungkin tak pernah anda sangka sebelumnya. Seperti yang kami temui malam itu, sebut saja namanya Pak Yos. Tak pernah terlintas dalam pikiran bahwa dirinya adalah mantan Area Manager bergaji delapan juta di sebuah perbankan swasta. Tapi kenapa bisa jadi sopir taksi?

Itulah hidup. Manusia berencana namun Tuhan yang berkuasa. Pak Yos rupanya pernah ditawari posisi dan gaji lebih tinggi di sebuah multinational corporate oleh rekan bisnisnya. Malang, tanpa banyak perhitungan dan melihat kejelasan, ia nekat resign. Alhasil, selama 5 bulan ia terkatung-katung menunggu kepastian pekerjaan dari sang teman, yang belakangan semakin sulit ditemui bahkan dihubungi. Anak istrinya mengeluh, gaya hidup urban yang terlanjur mewah dan boros seperti dikebiri. Ego Pak Yos luluh. Ia pun terpaksa jadi sopir taksi demi makan sehari-hari. Hingga kini Pak Yos memilih menghindar ketimbang malu bertemu rekan-rekan kerjanya di bank dulu. Hidupnya berubah drastis, anaknya bahkan tak mampu menghadapi krisis, mereka tetap bergaya layaknya si bapak masih jaya. Inilah yang disesalkannya. “saya memanjakannya dengan harta, saya khilaf”, ungkapnya.

Meskipun hampir gila dibelit dilema, Pak Yos mengaku belajar mengenalNya. Kini sholat malam tak pernah ditinggalkannya, ia pun rajin bersilaturahmi dan bersikap lebih peduli pada orang-orang disekitarnya. Hidup sederhana bukanlah akhir segalanya, Pak Yos berhasil belajar mensyukuri karuniaNya. Di akhir perjalanan kami, Pak Yos sempat berkata “mas..mbak..doakan saya mampu membimbing keluarga. Semoga kami kuat”. Kami mengangguk.

PS: Saya justru berterimakasih padanya, ia berdoa agar dikuatkan tapi ia jugalah yang menguatkan kami, bahwa hidup tak bisa ditebak, namun selalu bisa disyukuri.

6 thoughts on “Taksi Pak Yos

  1. yuli says:

    (“,)
    ..terimakasih, boleh turut “menikmati dan menelusuri” sepenggal perjalanan hidup yang “begitu sangat HIDUP”…
    ..sekali lagi syukur dan terimakasih…….

    Like

  2. nonadita says:

    Gw beberapa kali ketemu dgn supir Blue Bird yg mantan karyawan kantoran dgn jabatan yg lumayan. Beberapa sih pernah jadi korban PHK atau ditipu rekan kerja. Tapi kebanyakan dari mereka sudah merasa puas bekerja sbg sopir taksi, karena lumayan sejahtera baginya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s