Mom and being Mom

Sambel terong..
Hari ini saya kangen banget sama menu yang satu itu, bukan saja karna rasanya, tapi karna sejarah dibaliknya *halah*…alert…ini posting panjang lho šŸ™‚

Menu favorit yang sering disajikan mama saya penuh cinta, ketika saya baru pulang mingguan dari kampus, ketika saya ga nafsu makan karna ga ada yang pedes-pedes, ketika saya pulang sesekali saat ini..

Lebih dari itu, saya kangen ngobrolnya. Mama saya bukan orang kota yg tersentuh modernitas dg fasilitas dan akses lengkapnya, beliau perempuan banjar-melayu yang merantau, akrab dg budaya pesisir, dan tunggal yatim-piatu, tapi beliau tahu caranya menjadi sahabat dan motivator terbaik bagi anak-anaknya, bukan hanya bicara tapi juga mendengar.

Mama ngga ragu nyediain telinga buat saya curhat apa aja, jadi bahu klo saya tiba-tiba beralih menjadi drama queen, ngomel panjang klo saya keluyuran ga jelas atau nongkrong ngga guna, support saya dan cita-cita saya, bahkan bertahan atas segala coba demi anak-anaknya..

Mama tahu dan belajar bahwa zaman anaknya nanti akan sangat berbeda, maka kuatkanlah pondasinya dengan cinta dan agama, soal pilihan hidup, dia ngga akan memaksa.

Ngga jarang kami bertengkar, berargumen atas sesuatu lalu diam karna emosi..tapi..saya selalu ngga kuat ketika beliau datang untuk minta maaf atau saya yang ego ini nyadar..kemudian tersungkur dikakinya mohon ampun atas sgala hal yang menyakitinya.

Saya selalu kangen mama..selalu..
bukan hanya karna semangatnya menyekolahkan kami -ketujuh anaknya- ditengah labilnya ekonomi keluarga, tapi caranya ‘mengembangkan kami’ menjadi diri kami sendiri, bangga akan tiap keunikan yang kami miliki, menyadari perbedaan keinginan kami dan membuat kami bangga akan diri kami sendiri.

*ngelap air mata*
*srooooooooot* maap

Sampai sekarang, mama masih suka haru ngeliat hal2 yang menyentuh hati, mulai dari orang susah atau sinetron palsu yang jualan cerita sedih. Mama masih suka gembung (semacam roti goreng) dan doyang ngulang cerita masa mudanya, masih ingin kerja meski bisa aja santai dirumah, masih nelponin saya nanyain gimana kerjaan barunya *eh , masih norak sama internet-gadget dsb, masih ngomel2 klo rumah ga bersih atau ada yang sakit…masih semangat pengen naik haji

Saya patut bersyukur, karna mama mau berupaya menguatkan karakternya demi ‘sandaran’ anak-anaknya. Meski beliau sering juga menangis..mengadu..karna pilu..karna rindu..

dan sekarang, ketika saya menjadi ibu, sedikit demi sedikit merasakan suka-duka perannya, ia selalu ‘ada’ buat saya dan Ayesha, saya belajar banyak darinya..banyak..
it’s countless and precious.

Ia mencintai dengan caranya yang sederhana, namun sukses ‘mengantar’ saya menjadi apapun yang saya inginkan. Toh baginya, menjadi bermanfaat dan rendah hati lebih utama ketimbang jadi populer atau kaya.

I always proud of my mom, and proud of being mom…

Selamat Hari Ibu šŸ™‚

2 thoughts on “Mom and being Mom

  1. djghina says:

    @Marvel : my mother in law was marvellous too, dunno what to say, she give the best effort, taking care of my daughter while I’m working, teach me great menus and take me as I am.

    We’ve got same interests too, so we often share traditional snacks, go shopping, chat and take a walk.

    I was surrounded by magnificient women, who take me clearly without prejudice..I was grateful

    Anyway *jadi curcol ginih* thanks for stopping by šŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s