Edinburgh, A New Beginning

Source: Pinterest

Source: Pinterest

“Sal, would you mind complete the story for me?”

Suara bariton itu tegas menyapu gendang telinga Salsabeela. Kerongkongannya tercekat, pertanyaan yang meluncur dari mulut lelaki bertubuh tegap dihadapannya ini begitu tiba-tiba. Berulang kali ia menatap keluar jendela, kokohnya Edinburgh Castle tak jua mampu menenangkannya. Ia mengedip-ngedipkankan mata, memastikan bahwa semuanya bukan mimpi.

“Benarkah hal ini terjadi padaku? Sadarkah ia konsekuensi ucapannya tadi pada hidupku? Pada hidup kami? Gosh!”. Kali ini Salsabeela mencoba mengalihkan perhatiannya ke sekeliling kafe yang didominasi pernak-pernik gajah, tangan cemasnya sesekali menggenggam angin hingga akhirnya memutuskan untuk mengaduk-aduk Caffelatte Large yang keburu dingin sambil menunduk.

“You don’t believe me don’t you?… I’m supposed to give you more time”

Lelaki dihadapannya gantian menunduk, suaranya perlahan melembut, persis anak kecil yang gagal merajuk pada ibunya.

“Gilaaaaa! Ngga mungkin, pasti kamu ngga sadar saat mengucapkannya, pasti kamu sedang melakukan riset, memerhatikan detail ekspresiku untuk proyek novelmu kan?”. Salsabeela setengah berteriak, namun yang keluar dari mulutnya hanya gumaman lemah. Teriakan tadi sibuk memantul-mantul dalam benaknya.

“i…ummm…I really don’t know what to say”

Salsabeela balik menjawab sambil sesekali mengigit bibirnya. Tak seperti menjawab tantangan membangun writers-readers community center di Indonesia, atau mengulang-ulang tips menulis bagi pemula, mengiyakan tawaran Mike untuk menyelesaikan bab terakhir novelnya tak pernah ada dalam rencana, sama sekali tak terlintas.

“I’m just trying to be honest, to myself Sal”

Sekali lagi, Mike sukses mengacaukan kesadarannya. Potongan-potongan memori berkelebat cepat. Lalu-lalang orang di Charlotte Square Gardens, tumpukan buku-buku, sendau gurau para penulis, binar mata anak-anak saat mendengarkan storytelling, hangatnya Agustus,  kartu nama, e-card yang dikirim bersama email Mike. Semuanya berebut minta perhatian.

Ia tak menyangka, setahun setelah Edinburgh Book Festival diadakan, kejutan lain menantinya.

“Harusnya aku tahu, tak mungkin ia jauh-jauh mengundangku ke Edinburgh hanya untuk diskusi novel, kenapa tak lewat email, telepon atau skype mungkin? Kenapa harus bertemu……dan kenapa aku mau?” Salsabeela sibuk merutuki dirinya.

Tak cukup mencuri perhatiannya sejak berdiskusi di ruang festival dulu, kali ini Mike datang lagi dengan rencana gilanya.

——-

PS:

Edinburgh is a fairyland look alike, that’s why i always imagine that Salsabeela will wear one of my favourite fashion item flare skirt while meeting Mike at Giant Castle 🙂

Here’s me, the writer on a daily casual hijab 🙂

One thought on “Edinburgh, A New Beginning

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s