Menikmati Akhir Pekan di Ancol

Akhir pekan lalu saya, suami dan Ayesha menghabiskan waktu bersama. Mulai dari mencicip Es Krim Ragusa yang legendaris di Jl. Veteran kemudian berkeliling Ancol. Ada tiga aktivitas menarik yang kami lakukan disana:

Bermain di Pantai (Ancol Beach City Mall)IMG_014412Bagi kami Pantai Festival sudah terlalu mainstream, ramainya pengunjung sedikit mengurangi kenyamanan. Selain panas, pantainya juga kotor. Kami pun mengunjungi sisi lain Ancol, tepatnya di depan Ancol Beach City Mall. Beda banget deh, suasananya masih tergolong sepi dan pantainya bersih dengan pasir putih memanjakan mata. Kalau pengen ngadem, tinggal melipir ke deretan saung-saung yang ada di pinggir pantai. Toiletnya cukup bersih, tersedia panggung hiburan dan alternatif restoran juga.

Bersepeda di Ecopark Ancol34567Ini adalah pertama kalinya saya mampir ke Ecopark. Tempat yang diresmikan pada 2011 ini semula lapangan golf yang ditransformasikan menjadi ruang hijau terbuka. Menarik, karena selain sejuk ada berbagai kegiatan yang bisa menjadi alternatif liburan keluarga. Mulai dari berkeliling taman, outbond, flying fox, paint ball, menanam sayuran organik dan masih banyak lagi.

Suasananya yang sejuk dan bersih membuat saya betah mengajak Ayesha berlama-lama disini. Kami memutuskan bahwa cara terbaik menelusuri keindahannya pada sore hari adalah dengan bersepeda. Suami membonceng Ayesha dan saya tepat mengikuti di belakangnya. Karena masih sepi, kami sempat foto-foto di jalanan, mengunjungi taman komodo, memberi makan ikan di kolam dan menikmati cicit burung bersahutan. Sungguh hiburan sehat yang murah meriah.

Menonton Pertunjukan di Fantastique Ancol8Malam harinya dengan membayar tiket seharga 60ribu kami menyaksikan Musikal showbiz Ancol Paradis yang mengangkat cerita Timun Mas dan Buto Ijo di Fantastique. Area multimedia yang terletak di dalam Ecopark. Settingnya berupa benteng kerajaan. Duh, jadi makin penasaran melihat seni teater dan musik berpadu dengan kecanggihan teknologi. Konon, sejumlah seniman ternama seperti Djaduk Ferianto terlibat dalam proses penulisan ceritanya.

Saat maghrib, penonton yang akan masuk pun mengular. Sayang, Ayesha sempat menangis karena takut mendengar suara gelegar dan melihat bayangan besar Buto Ijo hasil sorotan sinar laser pada air mancur. Meski dibujuk, hingga akhir acara ia tetap memeluk saya erat-erat. Alhasil, suami merekam pertunjukan tersebut sambil geleng-geleng kepala. Eh, sesampainya di rumah, ngga disangka-sangka Ayesha malah penasaran dan menonton videonya berulang-ulang.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s