Kawah Ijen, The Spiritual Journey

Saat itu pukul setengah tiga dini hari, mobil elf yang saya tumpangi bersama komunitas Backpacker Indonesia melaju cepat, menembus jalur berkelok khas pegunungan, membiarkan kami yang sedang meringis kedinginan, terguncang-guncang dibelakang. Kawah Ijen become the second destination on my backpacking trip to East Java.

Meet the backpackers

Meet the backpackers

“Kopi luwak dihasilkan disini” ungkap Pak Sugeng, sopir kawakan yang tak henti-hentinya mengepulkan asap kretek demi mengusir dingin. Sayang, kami terpaksa mengubur keinginan mencicipi kenikmatan kopi para bangsawan itu karena harus secepatnya sampai untuk memulai pendakian ke Kawah Ijen.

“Kita ngga bisa naik sekarang” ungkap team leader kami sesampainya di gerbang Kawasan Wisata Kawah Ijen yang terletak di kabupaten Bondowoso, kecamatan Klobang dan kabupaten Banyuwangi, kecamatan Licin.

“Akan sangat berbahaya jika kita berangkat sekarang” ia melanjutkan. Kami lantas diminta beristirahat dalam mobil untuk bersiap mendaki pukul setengah empat pagi. Keraguan sempat menyelimuti, apalagi setelah tahu bahwa saat itu sebenarnya telah dipasang larangan mendaki Kawah Ijen karena aktivitas vulkaniknya sedang meningkat.

“Ah, tanggung” pikir saya dalam hati.

Sayang juga sudah jalan sejauh ini jika saya tak sempat merasakan berada di puncak Kawah Ijen, siapa tahu berkesempatan mengabadikan blue fire, api biru yang menjadi salah satu daya tariknya. Elvian, salah satu rekan backpacker saya mengatakan bahwa fenomena ini hanya ada dua di dunia. Satu di Indonesia dan lainnya di Islandia.

Blue Fire at Ijen Crater | Photo by @Elvianbarus

Blue Fire at Ijen Crater | Photo by @Elvianbarus

“InshaAllah aman” saya coba meyakinkan diri, meskipun aroma belerang makin pekat dan saya tak membawa masker. Niat sudah bulat, berbekal senter dan sling back berisi perlengkapan, tim yang dibagi menjadi dua kelompok beranggotakan kurang lebih 15 orang menanjak pelan. Perjalanan diperkirakan memakan waktu 2 – 2.5 jam.

Meski mengenakan dua lapis jaket dan kerudung, syal, sarung tangan, kaos kaki bahkan kets tebal, saya tetap saja menggigil. Begini nih kalau di kantor biasa duduk manis menatap laptop, jarang berolahraga di akhir pekan dan sekarang malah ingin naik gunung, tubuh pun terasa berat. Belum lima belas menit berjalan, rombongan kelompok kami terpaksa berhenti karena beberapa anggota kelelahan. Pola ini terus berlanjut sampai akhirnya kelompok lain dipersilakan mendahului dan dua anggota kami menyerah dengan napas tersengal-sengal. Sempat juga sih, tergoda kembali ke mobil dan ingin berhenti mendaki. Saat itu perut terasa mual, tenggorokan saya terasa kering dan tercekat akibat aroma belerang. Menghadapi jalur pendakian yang makin curam, napas saya berangsur pendek, terbatuk-batuk hingga sempat asma. Tak hanya itu, kepala saya pun ikut berputar, lutut ngilu dan gemetaran karena lama tak mendaki.

I truly want to give up that time. Kawah Ijen is so challenging, how can I handle it?

How can I ensure myself that it’s worth to try? Is it what I’m looking for?

And then I realized that this is more than climbing activities, this is a spiritual journey for me

Defeat my own ego, take risk and receive the best experience…feel alive 

Feel amaze!

Saya berhenti sebentar untuk meluruskan kaki sambil memikirkan cara untuk kembali memotivasi diri. Saya memutuskan berjalan sambil sesekali tersenyum, membantu mengingatkan diri bahwa hasilnya akan sepadan nanti. Setidaknya bisa menaklukan satu impian, sholat subuh diatas puncak pegunungan. Alhamdulillah, kurang lebih pukul lima pagi kami telah sampai di tujuan. Jalur menurun yang terjal penuh retakan itu terhampar di hadapan.

Ijen Crater track

Ijen Crater track

Cerukan-cerukan serupa tanah yang habis dihantam meteor besar berada di sisi kiri dan jurang penuh akar tanaman hangus dominan di sisi kanan. “Subhanallah” saya merasa sangat kerdil dihadapanNya, merasa malu akan dosa dan kerap kali mengingkari nikmatNya.

The Ijen Crater

The Ijen Crater

Cliff aside Ijen Crater

Cliff aside Ijen Crater

“Allahu Akbar!” I cried when I first raised my hand to say takbeer and start the morning prayers at the top of Ijen Crater. This is one of the spectacular moment in my life, feel close to Allah and being grateful surrounded by his magnificient signs

Morning prayer on Ijen Crater

Morning prayer on Ijen Crater

Enjoying dawn on Ijen Crater

Enjoying dawn on Ijen Crater

Morning universe :)

Morning universe 🙂

The Ijen Crater

The Ijen Crater

Go! and chase your dreams | Photo by @MonickaSyukriya

With Backpacker Indonesia

Pukul 7 pagi, setelah disuguhi landscape luar biasa dari puncak, saya dan teman-teman memutuskan untuk turun dan melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalur kami tak henti-hentinya berdecak kagum, memandangi vegetasi, serangga, bebatuan hingga penambang sulfur yang menjadi bagian keseharian Kawah Ijen.

Ijen Crater Track

Vegetation around Ijen Crater

Vegetation around Ijen Crater

I found flowers

I found flowers

The private moment

The private moment

Land of Ijen Crater

Land of Ijen Crater

Sulfur Miner

Sulfur Miner

Finally, it’s all worthed, the ups and downs, views, friends and even the cold air. Hopefully, Kawah Ijen is just a beginning to another marvelous climbing journey. I leave traces and always excited to find new places 🙂

Let's explore more

Let’s explore more

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s