Proses Melahirkan Aleandra

Shakeela Aleandra Madina Putra

Shakeela Aleandra Madina Putra

Due date saya diprediksi 4 Juli 2014 tapi Allah menentukan tanggal lain, Aleandra hadir menghiasi bulan Juni keluarga kami

Sabtu pagi, 14 Juni 2014

Saya kembali memeriksakan diri ke RSIA Tambak. Dr. Oni Khonsa kali ini menghela napas lega, “kalau mau lahir, lahirlah..sudah ok semuanya” ungkapnya seolah memberi izin. Maklum, selama trimester ketiga saya sering bolak-balik RS. Mulai dari injeksi Venover untuk meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh (agar tidak terjadi pengentalan darah), konsultasi alergi, injeksi Aminofluids dan beberapa kali bedrest untuk memulihkan kondisi akibat kontraksi berlebih. Kekhawatiran akan kelahiran prematur terus membayangi saya, belum lagi keinginan untuk melahirkan anak kedua secara normal.

“InshaAllah, kalau ketubanmu ngga pecah duluan dan kontraksimu sesuai, melahirkan normal masih memungkinkan”, Dr. Oni seolah membaca apa yang ada dalam pikiran saya. Saya mencoba pasrah, semuanya Allah yang menentukan. Sorenya, untuk menghibur diri, saya mengiyakan ajakan suami untuk makan malam keluarga di salah satu pusat perbelanjaan. Saya tak punya firasat apapun saat kontraksi kembali datang ketika berjalan-jalan di mall. Setibanya di rumah, kontraksi makin hebat dan mulai muncul flek. Saya panik dan ingin segera ke RS, namun suami mencegah dengan mengatakan bahwa mungkin saya kelelahan dan perlu istirahat. Malam itu tidur saya tak tenang, mulesnya itu lho..

Minggu, 15 Juni 2014

(02.30 WIB)

Saya masih meringis kesakitan ketika suami mencoba mengecek kondisi, setelah melihat flek saya bertambah banyak akhirnya ia yakin dan memutuskan untuk membawa saya ke RS. Saya pun langsung masuk ruang bersalin dan bertemu bidan untuk proses CTG. Bidan yang ramah itu mengatakan bahwa kontraksi saya bagus dan masih memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Mengingat sewaktu melahirkan Ayesha dulu ketuban saya ngga pecah, jujur saya gelagapan saat ditanya-tanya, soalnya ngga bisa bedain mana flek tanda akan melahirkan atau ketuban.

Alhamdulillahnya kali ini melahirkan ditemani suami sehingga rasa cemas yang membayangi sedikit berkurang, tak berapa lama rasa mulas bercampur ngilu bertambah hebat, napas saya kian tersengal-sengal meski telah ditopang bantuan oksigen. Lumayan stress juga sewaktu diminta bidan bergerak untuk pemeriksaan lebih lanjut, sekujur tubuh udah lunglai rasanya. Selanjutnya, saya mencoba pasrah ketika bidan yang ramah itu mengatakan flek saya telah berubah warna menjadi hijau karena mungkin telah bercampur ketuban, dengan sigap ia mengecek, rupanya belum ada pembukaan, kepala bayi pun belum turun ke jalan melahirkan. Ruang kamar bersalin mendadak gelap. Speechless. Tak terasa bulir hangat itu mengalir, suami saya mencoba menyekanya, ia menatap saya dengan teduh seolah mengungkapkan “kita hanya merencanakan, Allah yang menentukan” . Proses melahirkan normal sepertinya tak mungkin terjadi.

(04.30 WIB)

Benar saja, sekembalinya dari konsultasi dengan Dokter Oni (yang kebetulan sedang cuti), bidan mengabarkan bahwa saya harus menempuh proses melahirkan secara cesar. Saya pun menjatuhkan pilihan pada Dr. Yuyun (spesialis kehamilan beresiko) dan Dr. Botefilia, keduanya perempuan dan obgyn yang juga banyak direkomendasikan. Saya dijadwalkan operasi jam setengah tujuh pagi, artinya mesti kembali menahan ngilu karena kontraksi yang makin menjadi-jadi kurang lebih dua jam lagi. “Allah, kuatkan saya” doa itu meluncur dalam hati.

(06.00 WIB)

Bidan kembali datang untuk menyiapkan saya masuk ruang operasi, saat diminta turun dari tempat tidur dan duduk di kursi roda, ketuban bercampur flek mengalir deras. Saya panik, ngilu dan lemas, baru kali ini melihat air ketuban yang tak henti-hentinya keluar dan membanjiri ruangan juga sepanjang jalur yang saya lewati menuju ruang operasi. Merasa bersalah karena para bidan jadi sedikit kerepotan membersihkannya sambil memapah saya.

Di dalam, sempat ada hal yang tak mengenakan. Saya bisa mendengar jelas, salah satu bidan (atau perawat yang akan membantu di ruang operasi) mengeluh karena dimarahi dokter anestesi. Rupanya jadwal operasi mundur menjadi jam tujuh dan bidan tadi dianggap “takut” menentang keinginan tim dokter utama untuk mengubah jadwal. “Kita harus konsisten terhadap jadwal, kasihan nih pasien nungguin ditindak” ungkap dokter anestesi setibanya ia di ruang operasi.  It is trully an awkward moment, dimana pasien mendengar jelas perselisihan dokter-bidan yang ingin melakukan tindakan. Entah apa yang ada dalam pemikiran mereka, saya memilih tak ambil pusing.

Saya diminta berbaring kembali untuk menunggu namun kali ini saya tolak dengan alasan lebih nyaman merasakan nyeri kontraksi sambil duduk ketimbang tiduran. Finally, the team was complete..saya menggigil akibat kedinginan dan lemas bukan main. Dokter anestesi yang mood-nya telah down sejak pagi tadi sempat membentak karena saya bergerak sewaktu ingin dibius lokal lewat penyuntikan di tulang belakang..hadeeeeuh…untung saja suami saya diperbolehkan mendampingi di ruang operasi, kalau ngga bakal drama deh secara gantian mood saya yang turun begitu proses cesar dimulai

(07.30 WIB)

Tangis itu pecah, saya menangis haru..

It’s another amazing journey for me, now i’m officially mom of two girls :’)

Shakeela Aleandra Madina Putra lahir dengan panjang 45 cm, berat 3,030 kg disertai pipi chubby dan rambut tebal. Namanya memang panjang, tapi mampu membuat saya dan suami jatuh cinta pada artinya. Shakeela (Beautiful girl; Arabic), Aleandra (Light; Malta), Madina (City of the Prophet-place where he began his campaign to establish Islam; Arabic).

Kabarnya sewaktu ditemukan dokter, posisi kepalanya mendongak sehingga ngga masuk ke jalan lahir, kayaknya bakat aktif sejak di dalam kandungan nih. Akhirnya, momen yang ditunggu-tunggu datang juga, Aleandra ditelungkupkan di dada saya untuk inisiasi menyusui dini (IMD), kalau sudah begini dateng deh mellownya, nangis sambil memandangi baby Aleandra. Oh ya, jika dulu Ayesha mudah menemukan puting dan mulai menyusu, Aleandra malah asyik tidur meski pipinya dijawil-jawil dan kakinya dikelitiki agar bangun :D.

Aleandra take her 1st photo shoot

Aleandra take her 1st photo shoot

Pelayanan di RSIA Tambak selalu memuaskan. Saya dulu memilihnya karena dukungan untuk proses melahirkan normal dan IMD/pro ASI bagi para Ibu, belum lagi daftar para dokternya yang kerap jadi favorit di forum-forum parenting. Sejak melahirkan Ayesha, saya kerap merekomendasikan rumah sakit ini kepada teman-teman yang akan melahirkan. Hampir seluruh krunya ramah serta kooperatif, ruangan kamar dan sekitarnya bersih, fasilitas yang dimiliki lengkap bahkan kini sedang dalam tahap renovasi untuk perluasan.

Senangnya lagi ada sistem rooming in untuk bayi. Pasca melahirkan cesar dan tepar akibat bius lokal, saya bisa beristirahat tanpa perlu khawatir karena Aleandra aman di ruang bayi. Ia akan diantar untuk menyusu sore harinya sambil saya latihan untuk miring ke kanan dan ke kiri. Selanjutnya terserah sang ibu, selain waktu mandi jika masih membutuhkan bantuan, perawat bayi akan sigap membantu.

Aleandra (2 Days) saat rooming in

Aleandra (2 Days) saat rooming in

Happy mommy 🙂

Oh ya, sebelum pulang saya bisa menikmati sekaligus belajar pijat laktasi secara private lho, hanya dengan membayar 75ribu rupiah. Saya juga mendapat kursus perawatan bayi, foto bayi dan paket produk para sponsor yang bekerjasama dengan RSIA Tambak.

Baby hampers from RSIA Tambak

Baby hampers from RSIA Tambak

Keajaiban itu kembali datang setelah 4,5 tahun berselang, 9 bulan penuh perjuangan terbayar sudah dengan kehadiran Aleandra. Nyeri pasca operasi pun seolah menguap ketika saya menatap wajah mungilnya, ia amanah sekaligus ladang ibadah baru bagi saya, semoga Allah menyehatkan kami berdua dan memberkahi keluarga kecil kami, amiiin. Happy 23rd days my beloved Aleandra, Bunda loves you

 

8 thoughts on “Proses Melahirkan Aleandra

  1. Cihils says:

    Ghinaaa kamu udah melahirkan tohhh (maafkan keterlambatan!) Seru banget baca journeynya, bener2 terbawa suasana jadinya 😛 Congrats for beautiful baby Aleandra ya. Beautiful blessing with a beautiful name! :*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s