Amazing Race at Singapore [Part I]

If you only have short hours to explore Singapore alone, what would you do? Which place would you like to visit? this is my version 🙂

Take Singapore MRT

5 (3)6 (2)

Rencana awal saya untuk tiba di Changi Airport jam 12 siang waktu Singapura gagal akibat traffic jalanan Jakarta yang menggila dan saya mengalami drama ketinggalan pesawat. Padahal saya perlu waktu untuk menyesuaikan diri mengingat saya hanya sendiri dan baru pertama kali traveling ke sini, belum lagi harus mencari hotel dan makan siang plus mendatangi tempat-tempat wisata dalam daftar. Panic? of course but then i decide to take a deep breath, and stay optimist welcoming this adventurous journey.

Saya tiba di bandara jam setengah 3 siang, sempat berada dalam awkward moment mencari-cari pintu untuk naik skytrain menuju pintu keluar bandara plus kelupaan ngisi form visit Singapore, padahal udah ngantri di gerbang imigrasi, duh! Setelah lolos, saya pun harus berjalan lebih jauh lagi jika ingin naik MRT. Para petugas kebersihan atau petugas jaga yang umumnya etnis Tionghoa/India rata-rata tak bisa berbahasa Inggris. Bahasa isyaratlah yang menyelamatkan saya. Menenteng koper dan satu backpack akhirnya saya tiba juga di stasiun MRT Changi dan bersiap menuju MRT Bugis.

Sistem transportasi Singapura memang terintegrasi dengan sangat baik. Kita hanya perlu mengenali spot mana saja yang masuk North-South Line, East-West Line, North-East Line, Circle Line (kuning) dan Downtown Line. Jalur MRT ini sudah mencakup hampir keseluruhan wilayah Singapura.

Saya benar-benar berkejaran dengan waktu. Berbekal Singapore Street Directory App saya berjalan keluar stasiun menuju PARKROYAL Hotel Beach Road. Ternyata cuma 10 menit jalan kaki kok, dekat lah. Beres check in dan sholat di hotel saya langsung ngebut naik MRT menuju Gardens by The Bay. Kalau kesorean, batal deh dapet foto bagus karena minim pencahayaan, ngga asik juga keliling taman sendirian, malem pula. Oh ya, saya ngerasain juga muter-muter di Clarke Quay Mall mencari jalan keluar menuju stasiun bus namun batal karena saya pede banget pengen jalan kaki menikmati pedestrian Singapura yang super nyaman dan bersih. Jauh? lumayan banget sodara-sodara 😀

Drop by at  Marina Bay Sands & Garden by The Bay

7 (2)8 (2)9 (2)10 (2)11 (2)1213 (2)1415 (2)16 (2)

Karena ngga akan sempat naik OCBC SkyWay (jembatan tinggi yang memutari Giant Trees di area taman) saya memutuskan untuk masuk ke Marina Bay Sands untuk mendapat view menarik beberapa landmark Singapura dari atas. Ngga heran banyak yang berebutan selfie dari atas sini, backgroundnya menarik sih. Untuk menuju ke area taman saya hanya perlu turun menggunakan eskalator.

Pemandangan awal yang akan kita temui adalah Heritage Garden yang memperkenalkan ragam budaya Singapura (Malay, India, Tionghoa) lewat patung dan tata letak tamannya. Berjalan ke dalam baru kita akan menemui kubah besar yang jadi spot wisata utama, terdiri dari Flower Dome dan Cloud Forest. Sayang, meski sudah membeli tiket terusan saya hanya bisa melihat berbagai bunga cantik karena kubah hutan hujan tempat air terjun buatan berada sedang dalam perbaikan.

Kalau nanti ada kesempatan mengajak anak-anak ingin juga sih meminjam audio translator agar mereka bisa sekalian belajar mengenali kecantikan alam yang dipamerkan disana. Tak lama berkeliling, saya memutuskan untuk memotret pohon raksasa khas Garden by The Bay dan kembali menikmati sore di Singapura menuju salah satu pusat budaya khas disana.

Exploring Chinatown

1718 (2)19 (2)20 (2)21 (2)22 (2)

Karena sudah terlalu sore, saya langsung mendatangi Chinatown untuk melihat-lihat dengan tujuan akhir sholat di salah satu masjid tertua di Singapura, Masjid Jamae Chulia. Saya melewati para penjual souvenir, mengambil pelbagai foto bangunan tua dan ruko warna-warni, mengintip hostel-hostel (yang sebelumnya saya kenal lewat review di internet) dan kagum dengan keteraturan yang ada. Sayang, saya ngga menemukan Red Dot Museum dan Tawakal Muslim Food (gerai makanan halal paling dicari di Chinatown).

“Assalamualaikum..” suara berat menyapa saya ketika memasuki lokasi Masjid. Seorang Kakek keturunan India Tamil tersenyum ramah sambil menunjukkan arah tempat wudhu dan sholat bagi perempuan. Saya terharu. Rasanya luar biasa bahagia bisa bertemu sesama muslim, beribadah bersama dan menemukan kedamaian hati. Saya benar-benar menikmati sholat disini, tenang dan jauh dari hingar bingar.

Berdiri sejak 1826, masjid ini bisa dibilang salah satu peninggalan bersejarah di Singapura. Uniknya, lokasi masjid berada di tengah-tengah pemukiman etnis Tionghoa, bersebelahan dengan kuil Buddha Tooth Relic dan restoran India Tamil  namun berdiri kokoh menyiarkan Islam dalam damai. Sungguh, saya belajar toleransi (lagi).

Lebih dari sekedar jalan-jalan, kali ini saya belajar untuk mengenal diri sendiri lebih jauh lagi. Saya belajar bersahabat dengan waktu dan menikmati tiap momen yang hadir bersamanya.

Yes, i can’t wait for my next journey..

2 thoughts on “Amazing Race at Singapore [Part I]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s