Feeding Children With Love

Feeding Aleandra with love

Feeding Aleandra with love

More than providing nutrients; feeding a child is an act of love

Saya masih ingat salah satu kenangan paling menyenangkan semasa kecil dulu adalah waktu makan bersama keluarga. Tak hanya memberi asupan pada tubuh, ada doa yang terucap sebelum menyendok nasi, ada percakapan-percakapan sederhana mengalir disela-sela harum bumbu yang meruap, ada tawa jahil saya dan adik-adik yang diam-diam mencolek atau mencicip masakan mama, bahkan rasa kehilangan ketika anggota keluarga yang lain belum bergabung di meja makan. Mungkin pengalaman ini yang membuat saya percaya bahwa memberi makan anak, jauh dari sekedar membuatnya kenyang. Ini adalah tindakan yang melibatkan cinta, saat dimana kita terhubung, belajar saling memahami dan mempererat ikatan satu sama lain. Feeding is parenting. 

Saya berharap kedua putri saya juga bisa merasakan kebahagiaan yang sama. That’s why i was excited to involve my daughter with food since the beginning. Saya mengajak Ayesha memasak bersama. Mulai dari merencanakan menu, berbelanja bahan makanan, memetik sayuran, mencuci buah sampai menyiapkan mangkuk sajian. Kami saling bertukar cerita dan tawa sambil menikmati makanan. Hasilnya, Kakak jarang banget jajan (karena memang ngga dibiasaain), tetap doyan buah dan sayur. Ah, legaaa rasanya

Gimana dengan Baby Aleandra? well, I always consider myself as a newbie mommy, karena tiap anak memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Jika dulu saya bebas bereksperimen menawarkan beragam pilihan makanan pada Kakak Ayesha, kini saya justru ekstra hati-hati karena ia alergi terhadap telur. Salah satu informasi yang bisa jadi pedoman adalah rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan bahwa pemberian makanan pada bayi harus mencakup tiga hal:

  • Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
  • ASI Eksklusif selama 6 bulan dan
  • Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) sambil terus memberikan ASI hingga usia 2 tahun

Dua diantaranya telah terpenuhi, sekarang saya hanya perlu fokus mencari solusi kreatif agar nutrisi Aleandra tetap terpenuhi namun ia tetap nyaman mengonsumsi MPASI. Mulai dari berbelanja buah atau sayur organik, memilih finger food -yang bebas telur hingga menyiapkan MPASI. Lebih baik mencegah daripada mengobati kan?

Waspada Gizi Salah!

Miris, data terkini Global Nutrition Report (2014) menyatakan bahwa Indonesia mengalami masalah gizi kompleks, dengan stunting (perawakan pendek) dan wasting (perawakan kurus) sebagai gejala klinis yang paling banyak ditemui pada bayi di negeri kita.  Berbeda dengan gizi buruk, gejala ini disebut gizi salah yang artinya terdapat kekurangan atau kelebihan zat gizi tertentu akibat kesalahpahaman dalam memenuhi kebutuhan nutrisi 1000 hari pertama pertumbuhan si kecil. Langsung terbayang deh, proses mengolah bahan makanan yang kurang tepat sehingga menghilangkan nutrisi penting atau prinsip asal anak kenyang-padahal asupannya belum tentu bergizi, duh!

Then i ask myself, what i’ve done to make changes? sudahkah saya melakukan perubahan di rumah saya sendiri? tidak ada yang sempurna memang, tapi saya harus terus berproses, memberikan yang terbaik bagi kedua putri saya. Semangaaaaaat!!!!!

Perjalanan MPASI Aleandra

MPASI adalah makanan pendamping ASI, bukan pengganti ASI. Salah pemberian menu MPASI yang miskin gizi akan membuat bayi terlalu kenyang dan malas menyusu. Informasi ini turut mendasari tindakan saya memilih MPASI. Just like relationship, there were ups and downs. Ada kalanya saya happy berat karena Aleandra lahap menyantap atau sebaliknya, menguras emosi karena ia melepeh makanan. Saya jadi tahu kalau ia lebih memilih mengunyah potongan jagung rebus ketimbang makan nasi tim jagung, bersemangat menikmati nasi merah bercampur kaldu daging sapi, menyukai sayur bayam dan doyan banget pisang 😀 (snack kaya kalsium yang jadi bekal wajib saya saat hamil Aleandra dulu nih).

Alea, yang kini memasuki usia 10 bulan tergolong aktif. Ia sudah merambat bahkan berjalan 3-5 langkah dan hobi ngemil. Makanya, ketika traveling keluar rumah selain menyimpan nasi tim dalam jar (botol selai) mungil, saya pasti membawa buah atau biskuit bayi. Selain praktis dan membantunya fokus duduk di stroller, camilan yang bertekstur juga juga cocok untuk menstimulasi pertumbuhan giginya (sudah numbuh 6 diatas dan 2 dibawah lho). Sesekali saya selipkan roti, tahu atau puding sebagai variasi.

Beberapa favorit Aleandra adalah biskuit Milna 6+ varian pisang (of course!), apel-jeruk dan jeruk. Selain bebas telur, produk Kalbe Nutritionals ini memiliki kandungan nutrisi yang variatif, mencakup Macronutrients (Protein, Karbohidrat, Lemak) & Micronutrients (Vitamin & Mineral). Saya juga tak perlu khawatir karena makanan yang diproses industri untuk bayi tidak menggunakan pengawet dan pewarna buatan. Menariknya lagi, ketika stok habis dan belum sempat ke supermarket, saya bisa membelinya via online di Kalbe E Store. Solusi praktis bagi ibu bekerja macam saya ini.

kids snack time-djghina

kids snack time-2-djghina

Don’t Worry Be Happy 🙂

Saya mendamaikan diri dengan berpikir bahwa semuanya pasti butuh proses. Saya terus belajar mengenali hal-hal yang membuatnya bersemangat makan. Mulai dari variasi menu, cara penyajian sampai cara makan yang disukainya. Ngga perlu malu bertanya pada orangtua atau teman yang berpengalaman (or just read other people blog). Siapa tahu kan ada pengetahuan yang dapat diterapkan.

It’s a Miraculous Journey

Oh ya, selain menyusun food diary (agar mudah mendeteksi penyebab alergi), saya juga hobi mendokumentasikan tahap-tahap penting yang dilalui Aleandra. Tertarik juga nih mengikutkanya di Kompetisi Bayi Hebat Milna 2015, anggap saja motherhood project berikutnya :D.

milna bayi hebat 2015-aleandra-djghina

Memberi makan anak menjadi seni tersendiri. Saya diajak untuk kreatif memikirkan cara-cara agar Angka Kecukupan Gizi (AKG) anak-anak tetap terpenuhi dengan cara yang menyenangkan. Saya sadar, kunci untuk menularkan kebiasaan baik adalah mencontohkan. Bagaimana si kecil dapat hidup sehat ketika saya saja masih males-malesan, bagaimana si kecil mau bersyukur ketika saya saja masih suka menyisakan makanan. Beri makna lebih pada makanan yang kita santap tiap harinya, memilih memberikan biskuit atau susu kotak saat bertemu anak-anak jalanan atau meluangkan waktu memasak makanan di rumah bersama si kecil adalah beberapa cara yang telah mengubah cara hidup saya, how about you moms? what’s your feeding love story? 

 

 

 

One thought on “Feeding Children With Love

  1. Lisna says:

    Ahhh usia di bawah setahun klo anakku masa-masa bulan madu ni mbaa.. Setelah setahun lewat mulai deh susah makannya. Kadang dia mau, kadang engga. Kadang lahap, kadang dilepeh, huhuhu. *curcol*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s