My Breastfeeding Journey 

My Beloved Aleandra

Setiap anak memiliki kisahnya sendiri. Jika dulu saya mampu menyusui Kakak Ayesha tanpa masalah berarti, cerita Baby Aleandra lain lagi. Allah begitu baik, menguji kesabaran saya (lagi!). Pasca dihantui kemungkinan melahirkan bayi prematur yang berujung proses melahirkan cesar, saya tak pernah menyangka bahwa breastfeeding journey saya kali ini akan begitu berwarna.

IMG_0644

Aleandra-putri kedua saya-ternyata memiliki bilirubin diatas normal, ia harus disinar dan saya harus merelakan diri pulang ke rumah tanpanya. Saya jelas panik, meskipun sempat inisiasi menyusui dini, rooming in dua malam dan menggunakan jasa breast massage di RS, ASI saya belum terlalu lancar. Rasa takut dan pikiran-pikiran aneh mulai menghantui. Kasihan sekali dia, bagaimana kalau ASInya habis dan saya ngga ada disampingnya. Bayangan baby Aleandra meronta-ronta kehausan sibuk menyesakkan dada. Saya tak (pernah) siap berpisah dengan bayi saya.

Sebelum pulang, sambil menahan ngilu akibat operasi, saya berjalan perlahan ke ruang bayi dan meminjam pompa ASI. Sejam berlalu, garis merah penanda ukuran botol menunjukkan angka 50ml. “Ya Allah..mana cukup buat stock?” jerit saya dalam hati.

“Ngga apa-apa Bu, pelan-pelan saja”, suara perawat yang sejak tadi memperhatikan saya di sudut ruangan memecah kesunyian. Tak lama berselang, suami datang menjemput. Ia menepuk pelan bahu saya, seolah berkata bahwa saya harus tetap bersemangat untuk Aleandra. Malamnya saya tak bisa tidur, meski sempat mengantar satu botol lagi, kekhawatiran itu tak mudah ditepis.

Hingga akhirnya tiba waktu kami membawanya pulang, saya bahagia bukan kepalang dan tak henti-henti mencium pipinya. Saking semangatnya, rasanya ingin buru-buru menyusui. Saya lupa bahwa puting payudara terlanjur lecet dan kering akibat jeda tak menyusui langsung, mestinya saya basahi atau kompres dulu. And yes, it’s really hurt.

Menyusui Aleandra waktu itu seperti disayat-sayat, nyeri dan perih karena ia begitu antusias. Meskipun begitu, saya patut bersyukur karena ia tak bingung puting saat skin to skin contact dengan saya sesampainya di rumah.

Stok ASI.JPG

Momen bahagia itu berlanjut, berkat dukungan suami dan keluarga, saya berhasil mengumpulkan stok sebanyak 30 botol ASI saat cuti melahirkan berakhir. Keluarga yang berkunjung sampai sempat memuji kegigihan saya untuk tetap menyusui meski akan bekerja nantinya.

5 bulan berlalu..

Saya diuji (lagi). Ditengah padatnya pekerjaan akibat perubahan struktur kantor yang menyebabkan saya menjadi seorang single fighter, Aleandra kok ya sempat-sempatnya alergi karena makanan yang saya makan. Kulitnya kemerahan dan ia mulai batuk-batuk. Saya mengutuk diri sendiri karena terlalu ceroboh. Dokter anak pun menyarankan saya menyetop pemberian ASI yang mengandung alergen tadi. 200 ml yang saya kumpulkan susah payah hasil meminjam ruangan bos yang cuti, terpaksa dibuang. Rasanya pengen nangis, saya ngga rela..

You are your worst enemy. It is your negative thoughts that hold you back, nothing else | Leon Brown

Musuh terbesar adalah diri sendiri. Saya pikir hal ini tepat sekali menggambarkan kondisi saya waktu itu. Seringnya meeting dan undangan conference call di siang hari membuat saya menunda pumping yang berujung payudara bengkak plus meriang. Rasanya bawa perasaan banget, karena sempat tersinggung ketika ada rekan kantor yang bolak-balik nanya kenapa saya ngga pernah nongol di nursery room (yang letaknya berbeda 22 lantai dan akses kartu karyawan saya ditolak). Pernah juga jealous saat mendengar cerita teman-teman yang ASInya super lancar, bahkan bisa jadi donor ASI. Sedangkan saya shock karena di suatu pagi menemukan stok ASI tinggal 3 botol. “Ya iyalah, mereka kan ngga kerja”, otak saya mulai nyinyir.

Saya gelisah, gimana bisa tenang ke kantor kalau kayak gini. Sempat bad mood karena suami anteng-anteng saja menanggapi perubahan emosi saya.

Harusnya saya fokus untuk bangkit, bukan malah tenggelam diantara pikiran-pikiran negatif saya sendiri. Saya membiarkan kekhawatiran menguasai diri hingga merasa berhak “menjudge” orang lain. Saya sibuk menyalahkan keadaan kemudian menunjuk-nunjuk diri sendiri karena ngga becus mengatur waktu buat sekedar mompa ASI. Saya menggagalkan diri sendiri.

Kekesalan memuncak di kepala. Segala cara telah saya coba. Memijat, mengompres payudara dengan air hangat, minum stimulan tapi pumping cuma dapat 20ml. Dan ya, kalimat itu akhirnya keluar dari mulut saya, ide untuk memberikan Aleandra sufor karena ASI tak mencukupi. Suami berusaha menenangkan dengan berkata bahwa saya sudah berpengalaman sebelumnya, pasti bisa melewati hal ini. “Sayang Bun, sebentar lagi ia makan (MPASI)” ungkapnya pelan.

Malam itu pertahanan saya jebol

Rasanya gak becus banget jadi orang tua. Saya masuk kedalam kamar dan menelpon mama sambil meraung-raung. Sesenggukan, menumpahkan kekecewaan terhadap diri sendiri. Saya merasa jadi Ibu yang buruk karena tak mampu menyediakan nutrisi terbaik bagi bayi saya, saya merasa gagal. Mama mencoba bersikap tenang meskipun suaranya ikut terbata-bata.

Cukup lama saya duduk terdiam hingga suami datang memeluk. Ia tak berkata apa-apa, membiarkan saya melunturkan semua resah dibahunya. Saya menatap nanar Aleandra yang terlelap dalam tidurnya. “Maafkan Bunda, Nak”.

Keesokan paginya, dengan berat hati suami akhirnya (terpaksa) membeli dan mengizinkan saya memberi Baby Aleandra susu formula. Saya malu pada diri sendiri karena tak mampu berjuang lebih jauh lagi. Bayangan akan cibiran rekan-rekan sesama pejuang ASI kembali membayangi.

Perjuangan itu tak pernah berhenti

Pernah suatu kali, rekan sekantor bertanya “masih nyusuin?” Pertanyaan yang sempat bikin saya seperti ditampar bolak-balik. “Masih, tapi udah campur” dengan berat hati saya menjawab.

Namun saya berterima kasih, karena berkatnya, saya kini lebih berempati pada para Ibu yang mengalami jatuh bangun saat menyusui bayi mereka.

Selalu ada hikmah dibalik tiap peristiwa. Allah Maha Tahu. Saya harus mulai memaafkan diri sendiri dan bangkit untuk berjuang lagi. Breastfeeding isn’t easy journey yet it will be worth it for your baby.

Happy Breastfeeding

iphone 2790

Saya belajar banyak. Seolah diingatkan bahwa keadaan mungkin tak bersahabat, namun diri kita sendirilah yang memegang kendali akan kondisi hati. Akankah menghabiskan energi memikirkan hal-hal negatif sambil membayangkan apa kata orang atau fokus menciptakan “kebahagiaan” dalam diri sendiri.

Saya mulai melangkah lagi. Satu tahun enam bulan berselang dan hingga kini saya masih menyusuinya. Tak peduli apapun situasinya. Di rumah, sepulang kerja (atau di kantor ketika saya membawanya), di pusat perbelanjaan, di tempat-tempat umum atau saat traveling.

Breastfeeding has always been my precious moment. Those innocent eyes, a heart-melting smile, a tiny hand reaching out for yours, heart beats, a gentle kiss, a warm hugs, those struggling memories, bonding between us.

Saya tak pernah malu mengenakan baju Ibu menyusui atau mengeluarkan apron menyusui ketika saatnya tiba. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, saya merasa beruntung karena pilihan berbusana semakin luas berkat berjamurnya toko online. Beberapa desainer perempuan pun menghadirkan breastfeeding series yang menjawab kebutuhan para Ibu untuk tetap tampil baik saat menyusui maupun saat beraktivitas di luar rumah.

Keeva Shirt-Jenahara Breastfeeding Series

Keeva Shirt, Breastfeeding Series by Jenahara (Available on Hijup.com)

Satu hal yang terus saya ingat dalam hati, happy mom raise happy kids. Dimulai dari niat memberi yang terbaik bagi si buah hati, mengatur penampilan untuk menyemangati diri dan menikmati tiap detik berharga yang Allah berikan untuk kita. Enjoying the process, the ups and downs..

Salute to all moms

6 thoughts on “My Breastfeeding Journey 

  1. Fanny fristhika nila says:

    Wahh mba… Jd malu bacanya… Ankku yg prtama dulu dpt asi cm 1.5 bulan aja.. Tp aku akuin itu krn salahku yg trlalu cepet nyerah, trlalu gampang baby blues yg bikin produksi asi merosot drastis.. Tp skr aku lg nunggu anak ke2 dan udh bertekad sih pgn bisa kasih asi at leassstttt 6 bln deh 😀 ga usah muluk2 dulu bisa 2 thn…

    Like

    • @djghina says:

      Fanny, no need to shame, i think every mom has its own struggle
      Pastinya kita belajar dan berkembang bersama anak-anak kita dari waktu ke waktu
      Yuk, kumpulkan aura positif dan tetap semangaaaaaaaat :’)

      Like

  2. Aprillia Ekasari says:

    Saya juga jungkir balik menyusui kedua anak saya. Tapi, untung lingkungan mendukung. Yang paling penting menikmati proses membesarkan anak itu sendiri, nggak melihat “kesuksesan ortu lain dalam membesarkan anaknya”. Kalau saya sih begitu hehe

    Like

    • @djghina says:

      Sepakat Mom Aprilia, aku pun :). Paling happy ketika kita bisa belajar dari sekitar tapi bisa menjalani dan menikmati parenting style kita sendiri, meskipun jatuh bangun namun semua worth it

      terima kasih sudah mampir

      Like

  3. ega says:

    every kid has their own story yah ghin, mo anak ke-1 ke-2 ke-3 dst dst.
    everyone is always special and parent have their own special battlefield

    Like

    • @djghina says:

      Indeeeed ega, we need to stop ourselves for being judgemental to other moms. Each of us is special in every single way

      *hugs*

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s