9 Langkah Wujudkan Rasa Bangga Pada Produk Lokal Lewat Galeri Indonesia

This slideshow requires JavaScript.

Ketika ada kesempatan untuk tampil gaya atau penuhi kebutuhan dengan biaya terjangkau sekaligus membantu para pengrajin lokal, apa yang akan dilakukan? Saya tentu akan mencobanya. Setidaknya pemikiran ini yang muncul di kepala saya ketika menjelajah Galeri Indonesia Blibli.com. Tak tanggung-tanggung, tersedia 9 cara untuk membantu kita mewujudkan rasa bangga pada produk negeri sendiri. Mendukung perekonomian nasional kini dapat dilakukan langsung dari genggaman. Mudah bukan? ayo kita lihat, apa saja yang bisa dilakukan

Continue reading

Visit Erha Apothecary Plaza Indonesia

1Setelah mengenali problem yang saya alami, memeriksakan diri ke klinik dan melihat hasilnya, saya menyadari bahwa perawatan kulit cukup mudah dilakukan kok. Apalagi, dibantu dengan hadirnya Erha Apothecary di pusat perbelanjaan ibukota. Praktis dan mudah dijangkau dari kantor. Produk ready stock, layanan lengkap, antrian relatif sepi plus bisa sambil jalan-jalan saat jam makan siang. Mengusung konsep window shopping, saya bebas melihat-lihat, konsultasi atau mencoba langsung treatment yang ditawarkan (bisa facial atau peeling nih!) termasuk melakukan pembelian resep dokter. 2A comfy beauty lab menjadi kesan saya setelah menyempatkan diri mampir ke Erha Apotecary di Plaza Indonesia, tepatnya di Unit L3; 121a-121b. Nyaman karena ruangannya bersih dan ditata apik sehingga memudahkan konsumen baru macam saya mengenali produk sesuai kebutuhan. Mulai dari deretan rak-rak yang memamerkan berbagai kategori produk: Face Radiance; Cosmetic Essentials; Hair Nutrive; Body Revive; Baby Cuddly dan Mature Restore hingga display table untuk trial beberapa produk. Tersedia juga sofa besar dan TV di ruang tunggu klinik, toilet plus wastafel dengan cermin untuk ngaca-ngaca cantik. Staffnya pun ramah, ngga maksa ngikutin kita kemana-mana dan helpful waktu ditanya. 3Since I was a heavy online buyer, I get used to google first before buying things that I need (or want :p). Maklum, kalap mata rawan banget terjadi, padahal produk inceran blom tentu juga saya butuhkan. Finally, jadi deh borong Erha 2: facial wash for oily skin; Oil Control Wipes for normal to oily skin; Under Eye Suppressor for all skin types (yes! Bye-bye to dark circle and eye bag) dan Travelling Foamy Wash for baby and kid.

Now, let’s review them!

Erha 2; facial wash for oily skin; with AHA, DMAE, and Witch Hazel Extract (Rp 69.500/botol). Sejak diresepkan pertama kali sampai saat ini cocok banget sama kulit saya. Busanya lembut, rasanya juga ringan dan lembab sehabis dibilas. Sukses ngilangin minyak di wajah dan bikin seger setelah seharian ngantor atau beraktivitas.

Oil Control Wipes; for normal to oily skin; with Allantoin and Triclosan (Rp 27.000/10 sheets). Selalu dibawa saat ngantor atau travelling nih karena praktis. Tissuenya dingin dan segera menyerap minyak setelah diusapkan ke wajah. Penyelamat untuk kulit berkilap dan kusam, yeaay!

Under Eye Surpressor; for all skin types; with Antioxidant and Peptide Complex (Rp 172.500/botol). Item inceran yang sekarang jadi andalan saya. Creamnya bening, cepat menyerap di kulit dan ngga lengket, harum pula. Ngga khawatir deh penampilan terganggu karena produk ini membantu menyamarkan lingkaran hitam di sekitar mata saya. Padahal cuma rutin dioles dua kali sehari sehabis membersihkan wajah, lumayan jadi hemat foundation 😀

Travelling Foamy Wash; for baby and kids; with almond milk, aloe vera, pro vit B5 and E (Rp 85.500/botol). Surprised juga, ternyata selain kosmetik erha punya Litllerha-lini produk untuk bayi dan anak-anak. Makanya, begitu tahu ada foamy wash (busa lembut yang bisa dibilas dengan air atau tissue basah) yang aman digunakan untuk semua jenis kulit, bahkan untuk kulit anak yang sensitive produk ini langsung masuk dalam wishlist. Langsung dibawa dong pas jalan-jalan kemarin, praktis dan harumnya tahan lama, padahal anak-anak aktif bergerak seharian dan mudah keringetan. Recommended for mommy traveler.

Ada agenda belanja lagi? ajak saya yaaaa! ^^

Feeding Children With Love

Feeding Aleandra with love

Feeding Aleandra with love

More than providing nutrients; feeding a child is an act of love

Saya masih ingat salah satu kenangan paling menyenangkan semasa kecil dulu adalah waktu makan bersama keluarga. Tak hanya memberi asupan pada tubuh, ada doa yang terucap sebelum menyendok nasi, ada percakapan-percakapan sederhana mengalir disela-sela harum bumbu yang meruap, ada tawa jahil saya dan adik-adik yang diam-diam mencolek atau mencicip masakan mama, bahkan rasa kehilangan ketika anggota keluarga yang lain belum bergabung di meja makan. Mungkin pengalaman ini yang membuat saya percaya bahwa memberi makan anak, jauh dari sekedar membuatnya kenyang. Ini adalah tindakan yang melibatkan cinta, saat dimana kita terhubung, belajar saling memahami dan mempererat ikatan satu sama lain. Feeding is parenting. 

Saya berharap kedua putri saya juga bisa merasakan kebahagiaan yang sama. That’s why i was excited to involve my daughter with food since the beginning. Saya mengajak Ayesha memasak bersama. Mulai dari merencanakan menu, berbelanja bahan makanan, memetik sayuran, mencuci buah sampai menyiapkan mangkuk sajian. Kami saling bertukar cerita dan tawa sambil menikmati makanan. Hasilnya, Kakak jarang banget jajan (karena memang ngga dibiasaain), tetap doyan buah dan sayur. Ah, legaaa rasanya

Gimana dengan Baby Aleandra? well, I always consider myself as a newbie mommy, karena tiap anak memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Jika dulu saya bebas bereksperimen menawarkan beragam pilihan makanan pada Kakak Ayesha, kini saya justru ekstra hati-hati karena ia alergi terhadap telur. Salah satu informasi yang bisa jadi pedoman adalah rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan bahwa pemberian makanan pada bayi harus mencakup tiga hal:

  • Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
  • ASI Eksklusif selama 6 bulan dan
  • Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) sambil terus memberikan ASI hingga usia 2 tahun

Dua diantaranya telah terpenuhi, sekarang saya hanya perlu fokus mencari solusi kreatif agar nutrisi Aleandra tetap terpenuhi namun ia tetap nyaman mengonsumsi MPASI. Mulai dari berbelanja buah atau sayur organik, memilih finger food -yang bebas telur hingga menyiapkan MPASI. Lebih baik mencegah daripada mengobati kan?

Waspada Gizi Salah!

Miris, data terkini Global Nutrition Report (2014) menyatakan bahwa Indonesia mengalami masalah gizi kompleks, dengan stunting (perawakan pendek) dan wasting (perawakan kurus) sebagai gejala klinis yang paling banyak ditemui pada bayi di negeri kita.  Berbeda dengan gizi buruk, gejala ini disebut gizi salah yang artinya terdapat kekurangan atau kelebihan zat gizi tertentu akibat kesalahpahaman dalam memenuhi kebutuhan nutrisi 1000 hari pertama pertumbuhan si kecil. Langsung terbayang deh, proses mengolah bahan makanan yang kurang tepat sehingga menghilangkan nutrisi penting atau prinsip asal anak kenyang-padahal asupannya belum tentu bergizi, duh!

Then i ask myself, what i’ve done to make changes? sudahkah saya melakukan perubahan di rumah saya sendiri? tidak ada yang sempurna memang, tapi saya harus terus berproses, memberikan yang terbaik bagi kedua putri saya. Semangaaaaaat!!!!!

Perjalanan MPASI Aleandra

MPASI adalah makanan pendamping ASI, bukan pengganti ASI. Salah pemberian menu MPASI yang miskin gizi akan membuat bayi terlalu kenyang dan malas menyusu. Informasi ini turut mendasari tindakan saya memilih MPASI. Just like relationship, there were ups and downs. Ada kalanya saya happy berat karena Aleandra lahap menyantap atau sebaliknya, menguras emosi karena ia melepeh makanan. Saya jadi tahu kalau ia lebih memilih mengunyah potongan jagung rebus ketimbang makan nasi tim jagung, bersemangat menikmati nasi merah bercampur kaldu daging sapi, menyukai sayur bayam dan doyan banget pisang 😀 (snack kaya kalsium yang jadi bekal wajib saya saat hamil Aleandra dulu nih).

Alea, yang kini memasuki usia 10 bulan tergolong aktif. Ia sudah merambat bahkan berjalan 3-5 langkah dan hobi ngemil. Makanya, ketika traveling keluar rumah selain menyimpan nasi tim dalam jar (botol selai) mungil, saya pasti membawa buah atau biskuit bayi. Selain praktis dan membantunya fokus duduk di stroller, camilan yang bertekstur juga juga cocok untuk menstimulasi pertumbuhan giginya (sudah numbuh 6 diatas dan 2 dibawah lho). Sesekali saya selipkan roti, tahu atau puding sebagai variasi.

Beberapa favorit Aleandra adalah biskuit Milna 6+ varian pisang (of course!), apel-jeruk dan jeruk. Selain bebas telur, produk Kalbe Nutritionals ini memiliki kandungan nutrisi yang variatif, mencakup Macronutrients (Protein, Karbohidrat, Lemak) & Micronutrients (Vitamin & Mineral). Saya juga tak perlu khawatir karena makanan yang diproses industri untuk bayi tidak menggunakan pengawet dan pewarna buatan. Menariknya lagi, ketika stok habis dan belum sempat ke supermarket, saya bisa membelinya via online di Kalbe E Store. Solusi praktis bagi ibu bekerja macam saya ini.

kids snack time-djghina

kids snack time-2-djghina

Don’t Worry Be Happy 🙂

Saya mendamaikan diri dengan berpikir bahwa semuanya pasti butuh proses. Saya terus belajar mengenali hal-hal yang membuatnya bersemangat makan. Mulai dari variasi menu, cara penyajian sampai cara makan yang disukainya. Ngga perlu malu bertanya pada orangtua atau teman yang berpengalaman (or just read other people blog). Siapa tahu kan ada pengetahuan yang dapat diterapkan.

It’s a Miraculous Journey

Oh ya, selain menyusun food diary (agar mudah mendeteksi penyebab alergi), saya juga hobi mendokumentasikan tahap-tahap penting yang dilalui Aleandra. Tertarik juga nih mengikutkanya di Kompetisi Bayi Hebat Milna 2015, anggap saja motherhood project berikutnya :D.

milna bayi hebat 2015-aleandra-djghina

Memberi makan anak menjadi seni tersendiri. Saya diajak untuk kreatif memikirkan cara-cara agar Angka Kecukupan Gizi (AKG) anak-anak tetap terpenuhi dengan cara yang menyenangkan. Saya sadar, kunci untuk menularkan kebiasaan baik adalah mencontohkan. Bagaimana si kecil dapat hidup sehat ketika saya saja masih males-malesan, bagaimana si kecil mau bersyukur ketika saya saja masih suka menyisakan makanan. Beri makna lebih pada makanan yang kita santap tiap harinya, memilih memberikan biskuit atau susu kotak saat bertemu anak-anak jalanan atau meluangkan waktu memasak makanan di rumah bersama si kecil adalah beberapa cara yang telah mengubah cara hidup saya, how about you moms? what’s your feeding love story? 

 

 

 

My Skin Journey (Part II)

Bad mood itu muncul ketika kulit wajah bermasalah dan memasuki tahap perawatan tapi kita harus traveling dan mesti ketemu banyak orang, network penting pula.. duh!. Rasanya pengen garuk-garuk tembok, apa daya saya mesti tetap berangkat dan tersenyum meringis optimis.

Siang itu saya tiba di Changi Airport dalam rangka Community Manager Certification, sempat agak khawatir mengingat saya hanya boleh mengenakan krim pagi, krim malam dan facial wash dari Erha selama seminggu ini. And yes, no make up allowed. Padahal selfie di iconic landmark udah masuk dalam agenda. Jadi deh, cuma berani foto di Gardens by The Bay, itupun dikelilingi bunga biar jerawat tampak saru.

iphone 2155

Alhamdulillahnya, kekhawatiran saya ngga terbukti. Meskipun sedang memasuki tahap awal pengobatan, kulit saya baik-baik saja. Ngga ada rasa terbakar, perih atau panas meskipun cuaca disana terik, hanya sedikit oily akibat saya sibuk walking tour di Singapura seharian penuh. Mungkin kami jodoh.

Pulang ke Indonesia, perubahan mulai terasa. Sempat wajah terlihat agak menghitam dan kulit di area dagu serta hidung mengelupas, tapi ngga sampai membatasi aktifitas. Lewat seminggu dari kunjungan saya ke Erha Clinic Kelapa Gading, saya mulai mengurangi intensitas pemakaian krim pagi menjadi dua kali karena jerawat sudah mengempes. Selanjutnya saya rutin mengenakan ketiga produk bersamaan dan sesekali mengenakan bedak tipis di wajah.

iphone 2911

Finally, tepat sebulan setelahnya kulit wajah kembali ke jalur normal, saya happy setengah mati karena bisa eksperimen make up of the day lagi. Mau bold atau nude look semuanya bisa dilakukan. Jadi ngga sabar mampir ke Erha Apothecary Plaza Indonesia untuk melihat-lihat, produk apalagi yang bisa melengkapi keseharian saya. Mommies punya pengalaman yang sama?

dj

Dreams Do Come True [Casa Elana for IHB Blog Post Challenge]

“Beri kaki pada mimpi agar turun ke bumi dan berlari. Jangan biarkan diawang-awang kemudian terbang dan hilang” (Ainun Chomsun, Founder Akademi Berbagi)

Saya selalu menyukai perempuan-perempuan inspiratif. Salah satunya Mba Ai yang saya ajak ngobrol di kedai kopi bertahun-tahun lalu. Prinsip yang dipegangnya turut menyemangati saya, sebagai pribadi dan seorang ibu. Meyakinkan lagi bahwa kami bisa mewujudkan mimpi melalui langkah-langkah sederhana. Start with small steps.

Saya mulai dengan menuliskannya, ketika ditanya apa impianmu 5 tahun kedepan?

Do More Motherhood Projects

Love you to the moon and back

Juggling between motherhood and worklife ain’t easy, there’s ups and downs yet am grateful for it. Memiliki satu putri usia sekolah dan satu bayi menyusui tanpa asisten (hanya saya dibantu tim-suami dan mama mertua-yang hebat) adalah ladang amal luar biasa. Saya perlu manajemen waktu, energi dan nutrisi. Kami harus tumbuh dan belajar bersama, menikmati waktu-waktu berharga ini dengan sebaik-baiknya. Saya-yang selalu merasa newbie mom-harus berpikir kreatif bagaimana menyemangati diri sendiri sekaligus menyenangkan anak-anak saya, lahir dan batin *tepok jidat*

Inilah alasan mengapa saya mulai membuat kategori khusus Motherhood Project di blog, sebagai salah satu pengingat bahwa kencan bersama anak-anak itu penting bangeeeeet. Relationship matters, period. Meskipun melakukannya lebih mudah ketimbang mempostingnya saya ngga patah semangat. Saya juga mencoba mengabadikan momen #HappyParenting di Instagram sebagai penyemangat setelah menghabiskan waktu bersama anak-anak. Mulai dari jalan-jalan, piknik, memasak, merancang pesta ulang tahun, sampai menggambar bersama mereka. Selanjutnya, saya berencana mengajak mereka mengerjakan hal-hal yang dulu biasa saya lakukan bersama mama. Mungkin mengecat kamar saat lebaran tiba, membuat baju-baju boneka, mencoba resep bento baru, menulis atau membalas surat antar kami atau ngobrol sambil memandangi hujan. Family is my heaven on earth :’)

Rencana paling dekat adalah mencontreng wishlist upload foto outfit of the day sama anak-anak. Thanks to www.casaelana-shop.com yang mengeluarkan edisi breastfeeding dan mom & kidsnya, jadi punya referensi deh.

Satu hal yang pasti ada di agenda adalah menyekolahkan anak-anak saya di tempat yang sesuai. Ya lokasinya, metode pengajarannya, biayanya :D. Kalau untuk Kakak Ayesha, survey sekolah sudah dilakukan kemarin-kemarin. Sejauh ini, kami ingin mencoba home schooling, kumon dan art school untuk melengkapi aktivitasnya ketimbang memaksanya masuk SD. Ketika usianya cukup, saya dan suami berencana memasukannya ke salah satu sekolah Islam di Rawamangun. Sedangkan untuk Aleandra, sudah lebih terbayang mau diikutkan ke mana, mungkin ngga jauh dari jejak kakaknya.

Published My Own Books

coming soon! wish me luck

coming soon! wish me luck

As a person, I’ve tried to encourage myself to be a better person. Langkah paling efektif sejauh ini adalah menyalurkannya lewat aktivitas menulis. Saya bisa memvisualkan mimpi, mengeluarkan pikiran dan segenap hati. Menulis telah membantu saya tetap passionate dan menikmati hidup. Saya juga yakin, semangat ini bisa ditularkan jika saya mau berbagi dengan orang lain. Tidak heran jika “menerbitkan buku” selalu ada dalam daftar mimpi saya.

Jika awalnya malu-malu, pada akhirnya saya memberanikan diri untuk mengirimkan naskah ke penerbit. Tak disangka editor mereka tertarik pada beberapa outline tulisan saya dan meminta naskah lengkapnya. Saat ini saya sedang menulisi bab akhir novel dan karya non fiksi saya. Topiknya seputar drama keluarga, dunia digital dan tentu saja motherhoodThe deadline was this year, i need to be more focus on that.

Untuk menyenangkan hati, menjaring ide dan mencegah writers block, saya mencoba kembali mengupdate blog djghina.com, ikutan challenge  indonesian-hijabblogger.com, cek album pinterest dan menulis prosa. Untuk yang terakhir sudah masuk tahap finishing, saya bahkan telah merancang cover bukunya :D.

Do More Community Collaborations

My fellow community managers

My fellow community managers

Community has always been on my passion list. Saya memulainya dengan memproduseri acara radio bertajuk Lite Community, menyelenggarakan acara bersama beberapa komunitas digital sewaktu menjadi konsultan, mengelola konten untuk The Largest Indonesian Community, menggelar Community Festival bersama tim kesayangan hingga sekarang menangani forum solusi komunitas pertama di Indonesia. Passion is a great energy, it help you to focus on wake up everyday with a smile.

Alhamdulillah, satu wishlist terwujud. April kemarin saya dipercaya perusahaan untuk mengikuti Community Manager Sertification di Singapura. Ini memicu saya untuk mengembangkan diri dan mengaplikasikan ilmu lebih jauh lagi.

Once again, we need to share and give more impact to society. Saya berencana mewujudkan impian yang sempat tertunda, yakni menggelar beberapa Digital Moms Workshops. Perlu mengatur jadwal dan kembali mengundang Mba fifi Alvianto sebagai salah satu pembicaranya 🙂 

Send My Parents to Go Hajj

Ngga ada kebanggaan yang lebih besar bagi saya selain mewujudkan senyum di wajah mama-papa, salah satunya dengan membantu mewujudkan mimpi mereka untuk naik haji. Allahu Akbar, menulisi hal ini saja membuat saya merinding karena percaya bahwa niatan baik selalu menemukan jalan. April ini, Papa berkesempatan untuk umroh dan saya menitipkan doa agar kelak dimudahkan rezekinya.

Saya dan suami yakin, ketika impian ini terwujud segala sesuatunya akan lebih berkah untuk kami. Doa orang tua adalah segalanya dan kami harus memulainya. InshaAllah setoran di tabungan haji tahun ini dapat terpenuhi dan kami bisa segera mendaftarkan keberangkatan mereka.

Travel to Europe

Travel and explore more

Travel and explore more

Last but not least, meskipun saya senang backpacking atau solo traveling, jalan-jalan keliling Eropa bersama keluarga adalah agenda yang selalu saya impikan. Mengunjungi Disneyland Paris, melihat koleksi Museum Tintin di Brussel Belgia, menyesap udara sejuk Edensor, mendatangi kastil-kastil tua di Edinburgh, menyusuri kanal-kanal di Venice Italia, piknik di taman-taman kota atau tenggelam dalam kekaguman melihat perpustakaan besar di tiap Negara, mampir ke Camp Nou di Spanyol (yah ini sih, impian titipan suami yang notabene penggemar Club Barcelona :D)

That’s why, perencanaan finansial menjadi pondasi awal. Selain tabungan haji, saya dan suami juga telah menyisihkan sebagian rezeki untuk hal ini. Bergabung dengan coachsurfing, airbnb and crescrenting also help me to craft information to craft itinerary. Beli buku atau majalah trip plus blogwalking sana-sini juga membantu persiapan perjalanan kami ke Eropa. Mulai dari ngintip tips travel with kids, listing mosque and Islamic center, checking halal food that available for muslim traveler like us dan merencanakan jadwal serta agen perjalanan yang tepat. Yap, kalau masih berduaan sama suami sih tinggal backpacker-an aja ngga perlu pake agen :p

Jadi, daftar yang mesti dicicil (selain tabungan jalan-jalan) adalah bikin paspor buat mama mertua, adik ipar dan kedua putri say. Ah, semoga dengan mengikutkan tulisan ini dalam Casa Elana for IHB Blog Post Challenge menjadi awal terbukanya langkah-langkah kecil lainnya mewujudkan impian saya. Amiiiiiiiiin.

Indonesian Hijab Bloggers-April Challenge

Jadi, apa yang menjadi mimpimu 5 tahun mendatang? Sudah mulai menuliskannya kah? Langkah kecil apa saja yang telah dilakukan untuk mencapainya? Adakah timeplan yang membantumu melacak, sejauh apa kita telah berjalan? Are we happy? Are we on the right track?

don’t just dream, act on it! 🙂

Amazing Race at Singapore [Part II]

I’ve got three hours left to explore Singapore since the next day am taking my morning flight back to Jakarta, Indonesia. After short adventure through walking tour around Garden by The Bay and Chinatown, i decided to enjoy Singapore from a different perspective. Taking a closer look at Singapore landmarks just in one way.

PARKROYAL Hotel Singapore

iphone 216123456

last four photos was taken from their official web www.parkroyalhotels.com

Hotel of The Year 2013 versi  World Architecture Festival ini memang iconic. Tiga lapis hanging garden yang mirip dengan kontur terasering (atau sawah) menjadi ciri khas utamanya. Luxurious detail was everywhere, wish I had another chance to spend the night here. Lokasinya sangat strategis, tinggal pilih saja mau jalan dan jajan ke Clarke Quay atau Chinatown, berdekatan kok. Menu makannya sangat variatif, Asia hingga Eropa. Kalau mau sholat bisa mampir ke Mesjid Jamae Al Chulia juga yang terletak tak jauh di belakang hotel cantik ini.

1

Yet here, am lucky to have a chance meeting with Community Managers around Asia to take sertification powered by LithiumTech. It’s a good networking moment, you can share stories of what happening on each communities and learn from them. I am the only woman representative from Indonesia, so am very grateful for this opportunity.

River Tour Clarke Quay

8 9 10 11 12 13 14f 16 18 17

Berkat referensi, selain tiket Garden by The Bay saya juga memesan tiket River Explorer dari Mba Darling, pemilik jalan-jajan Singapura. Total biaya SGD 43 saja (Rp 407.900). Pulang ujian, saya langsung berjalan menuju The Central Mall menuju jembatan penyebrangan. Berhubung sudah punya tiket, saya bisa langsung menaiki tanpa antri di counter Singapore River Explorer yang letaknya disamping Novotel Clarke Quay. Ternyata, wisata sungai disini nyaman dan ngga berbau. Inilah cara lain menikmati Singapura dari sudut pandang berbeda.

Sekali jalan, berbagai Singapore landmarks terlewati. Mulai dari pub-resto-gedung kuno ala Clarke Quay, Fullerton Hotel yang mewah dan bersejarah, Patung Merlion yang jadi ikon Singapura, Marina Bay Sands, bianglala raksasa Singapore Flyer, Art-Science Museum sampai jembatan tertua di Singapura Cavenagh Bridge. Meski sudah jam 5 sore, cuaca Singapura sedang panas-panasnya waktu itu jadi mengambil foto cukup menantang juga lho, tapi secara keseluruhan saya puas satu jam berkeliling menyusuri sungai sambil menikmati sepoi angin.

Shop at Bugis Street Market

20 19

Jika ada waktu lebih, ingin juga mampir ke Orchard yang tersohor itu atau menjelajah Kampung Arab, namun karena besok pagi harus mengejar penerbangan pulang, malamnya saya menyempatkan diri mampir ke jalan Bugis untuk berbelanja. Suasana pasar tergolong ramai, namun cukup bersih dan berAC pula. Ngga usah mikir barang bermerk ya kalau disini, karena sebagian besar produk yang dijual buatan China dan Korea. Lumayan, bisa beli gantungan kunci yang lucu-lucu, beberapa potong kemeja jeans bermotif plus borong camilan buat di rumah.

Finally, sampai di hotel saya langsung mandi air hangat dan merapikan koper agar tenang beristirahat. Seneng juga karena survive jalan sendirian di Singapura. Meski sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari, tetap saja cemas karena semuanya serba pertama kali. Jadi PD dan semangat nih mempersiapkan wishlist trip ke Singapura bareng keluarga.

Amazing Race at Singapore [Part I]

If you only have short hours to explore Singapore alone, what would you do? Which place would you like to visit? this is my version 🙂

Take Singapore MRT

5 (3)6 (2)

Rencana awal saya untuk tiba di Changi Airport jam 12 siang waktu Singapura gagal akibat traffic jalanan Jakarta yang menggila dan saya mengalami drama ketinggalan pesawat. Padahal saya perlu waktu untuk menyesuaikan diri mengingat saya hanya sendiri dan baru pertama kali traveling ke sini, belum lagi harus mencari hotel dan makan siang plus mendatangi tempat-tempat wisata dalam daftar. Panic? of course but then i decide to take a deep breath, and stay optimist welcoming this adventurous journey.

Saya tiba di bandara jam setengah 3 siang, sempat berada dalam awkward moment mencari-cari pintu untuk naik skytrain menuju pintu keluar bandara plus kelupaan ngisi form visit Singapore, padahal udah ngantri di gerbang imigrasi, duh! Setelah lolos, saya pun harus berjalan lebih jauh lagi jika ingin naik MRT. Para petugas kebersihan atau petugas jaga yang umumnya etnis Tionghoa/India rata-rata tak bisa berbahasa Inggris. Bahasa isyaratlah yang menyelamatkan saya. Menenteng koper dan satu backpack akhirnya saya tiba juga di stasiun MRT Changi dan bersiap menuju MRT Bugis.

Sistem transportasi Singapura memang terintegrasi dengan sangat baik. Kita hanya perlu mengenali spot mana saja yang masuk North-South Line, East-West Line, North-East Line, Circle Line (kuning) dan Downtown Line. Jalur MRT ini sudah mencakup hampir keseluruhan wilayah Singapura.

Saya benar-benar berkejaran dengan waktu. Berbekal Singapore Street Directory App saya berjalan keluar stasiun menuju PARKROYAL Hotel Beach Road. Ternyata cuma 10 menit jalan kaki kok, dekat lah. Beres check in dan sholat di hotel saya langsung ngebut naik MRT menuju Gardens by The Bay. Kalau kesorean, batal deh dapet foto bagus karena minim pencahayaan, ngga asik juga keliling taman sendirian, malem pula. Oh ya, saya ngerasain juga muter-muter di Clarke Quay Mall mencari jalan keluar menuju stasiun bus namun batal karena saya pede banget pengen jalan kaki menikmati pedestrian Singapura yang super nyaman dan bersih. Jauh? lumayan banget sodara-sodara 😀

Drop by at  Marina Bay Sands & Garden by The Bay

7 (2)8 (2)9 (2)10 (2)11 (2)1213 (2)1415 (2)16 (2)

Karena ngga akan sempat naik OCBC SkyWay (jembatan tinggi yang memutari Giant Trees di area taman) saya memutuskan untuk masuk ke Marina Bay Sands untuk mendapat view menarik beberapa landmark Singapura dari atas. Ngga heran banyak yang berebutan selfie dari atas sini, backgroundnya menarik sih. Untuk menuju ke area taman saya hanya perlu turun menggunakan eskalator.

Pemandangan awal yang akan kita temui adalah Heritage Garden yang memperkenalkan ragam budaya Singapura (Malay, India, Tionghoa) lewat patung dan tata letak tamannya. Berjalan ke dalam baru kita akan menemui kubah besar yang jadi spot wisata utama, terdiri dari Flower Dome dan Cloud Forest. Sayang, meski sudah membeli tiket terusan saya hanya bisa melihat berbagai bunga cantik karena kubah hutan hujan tempat air terjun buatan berada sedang dalam perbaikan.

Kalau nanti ada kesempatan mengajak anak-anak ingin juga sih meminjam audio translator agar mereka bisa sekalian belajar mengenali kecantikan alam yang dipamerkan disana. Tak lama berkeliling, saya memutuskan untuk memotret pohon raksasa khas Garden by The Bay dan kembali menikmati sore di Singapura menuju salah satu pusat budaya khas disana.

Exploring Chinatown

1718 (2)19 (2)20 (2)21 (2)22 (2)

Karena sudah terlalu sore, saya langsung mendatangi Chinatown untuk melihat-lihat dengan tujuan akhir sholat di salah satu masjid tertua di Singapura, Masjid Jamae Chulia. Saya melewati para penjual souvenir, mengambil pelbagai foto bangunan tua dan ruko warna-warni, mengintip hostel-hostel (yang sebelumnya saya kenal lewat review di internet) dan kagum dengan keteraturan yang ada. Sayang, saya ngga menemukan Red Dot Museum dan Tawakal Muslim Food (gerai makanan halal paling dicari di Chinatown).

“Assalamualaikum..” suara berat menyapa saya ketika memasuki lokasi Masjid. Seorang Kakek keturunan India Tamil tersenyum ramah sambil menunjukkan arah tempat wudhu dan sholat bagi perempuan. Saya terharu. Rasanya luar biasa bahagia bisa bertemu sesama muslim, beribadah bersama dan menemukan kedamaian hati. Saya benar-benar menikmati sholat disini, tenang dan jauh dari hingar bingar.

Berdiri sejak 1826, masjid ini bisa dibilang salah satu peninggalan bersejarah di Singapura. Uniknya, lokasi masjid berada di tengah-tengah pemukiman etnis Tionghoa, bersebelahan dengan kuil Buddha Tooth Relic dan restoran India Tamil  namun berdiri kokoh menyiarkan Islam dalam damai. Sungguh, saya belajar toleransi (lagi).

Lebih dari sekedar jalan-jalan, kali ini saya belajar untuk mengenal diri sendiri lebih jauh lagi. Saya belajar bersahabat dengan waktu dan menikmati tiap momen yang hadir bersamanya.

Yes, i can’t wait for my next journey..