Amazing Race at Singapore [Part II]

I’ve got three hours left to explore Singapore since the next day am taking my morning flight back to Jakarta, Indonesia. After short adventure through walking tour around Garden by The Bay and Chinatown, i decided to enjoy Singapore from a different perspective. Taking a closer look at Singapore landmarks just in one way.

PARKROYAL Hotel Singapore

iphone 216123456

last four photos was taken from their official web www.parkroyalhotels.com

Hotel of The Year 2013 versi  World Architecture Festival ini memang iconic. Tiga lapis hanging garden yang mirip dengan kontur terasering (atau sawah) menjadi ciri khas utamanya. Luxurious detail was everywhere, wish I had another chance to spend the night here. Lokasinya sangat strategis, tinggal pilih saja mau jalan dan jajan ke Clarke Quay atau Chinatown, berdekatan kok. Menu makannya sangat variatif, Asia hingga Eropa. Kalau mau sholat bisa mampir ke Mesjid Jamae Al Chulia juga yang terletak tak jauh di belakang hotel cantik ini.

1

Yet here, am lucky to have a chance meeting with Community Managers around Asia to take sertification powered by LithiumTech. It’s a good networking moment, you can share stories of what happening on each communities and learn from them. I am the only woman representative from Indonesia, so am very grateful for this opportunity.

River Tour Clarke Quay

8 9 10 11 12 13 14f 16 18 17

Berkat referensi, selain tiket Garden by The Bay saya juga memesan tiket River Explorer dari Mba Darling, pemilik jalan-jajan Singapura. Total biaya SGD 43 saja (Rp 407.900). Pulang ujian, saya langsung berjalan menuju The Central Mall menuju jembatan penyebrangan. Berhubung sudah punya tiket, saya bisa langsung menaiki tanpa antri di counter Singapore River Explorer yang letaknya disamping Novotel Clarke Quay. Ternyata, wisata sungai disini nyaman dan ngga berbau. Inilah cara lain menikmati Singapura dari sudut pandang berbeda.

Sekali jalan, berbagai Singapore landmarks terlewati. Mulai dari pub-resto-gedung kuno ala Clarke Quay, Fullerton Hotel yang mewah dan bersejarah, Patung Merlion yang jadi ikon Singapura, Marina Bay Sands, bianglala raksasa Singapore Flyer, Art-Science Museum sampai jembatan tertua di Singapura Cavenagh Bridge. Meski sudah jam 5 sore, cuaca Singapura sedang panas-panasnya waktu itu jadi mengambil foto cukup menantang juga lho, tapi secara keseluruhan saya puas satu jam berkeliling menyusuri sungai sambil menikmati sepoi angin.

Shop at Bugis Street Market

20 19

Jika ada waktu lebih, ingin juga mampir ke Orchard yang tersohor itu atau menjelajah Kampung Arab, namun karena besok pagi harus mengejar penerbangan pulang, malamnya saya menyempatkan diri mampir ke jalan Bugis untuk berbelanja. Suasana pasar tergolong ramai, namun cukup bersih dan berAC pula. Ngga usah mikir barang bermerk ya kalau disini, karena sebagian besar produk yang dijual buatan China dan Korea. Lumayan, bisa beli gantungan kunci yang lucu-lucu, beberapa potong kemeja jeans bermotif plus borong camilan buat di rumah.

Finally, sampai di hotel saya langsung mandi air hangat dan merapikan koper agar tenang beristirahat. Seneng juga karena survive jalan sendirian di Singapura. Meski sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari, tetap saja cemas karena semuanya serba pertama kali. Jadi PD dan semangat nih mempersiapkan wishlist trip ke Singapura bareng keluarga.

Amazing Race at Singapore [Part I]

If you only have short hours to explore Singapore alone, what would you do? Which place would you like to visit? this is my version 🙂

Take Singapore MRT

5 (3)6 (2)

Rencana awal saya untuk tiba di Changi Airport jam 12 siang waktu Singapura gagal akibat traffic jalanan Jakarta yang menggila dan saya mengalami drama ketinggalan pesawat. Padahal saya perlu waktu untuk menyesuaikan diri mengingat saya hanya sendiri dan baru pertama kali traveling ke sini, belum lagi harus mencari hotel dan makan siang plus mendatangi tempat-tempat wisata dalam daftar. Panic? of course but then i decide to take a deep breath, and stay optimist welcoming this adventurous journey.

Saya tiba di bandara jam setengah 3 siang, sempat berada dalam awkward moment mencari-cari pintu untuk naik skytrain menuju pintu keluar bandara plus kelupaan ngisi form visit Singapore, padahal udah ngantri di gerbang imigrasi, duh! Setelah lolos, saya pun harus berjalan lebih jauh lagi jika ingin naik MRT. Para petugas kebersihan atau petugas jaga yang umumnya etnis Tionghoa/India rata-rata tak bisa berbahasa Inggris. Bahasa isyaratlah yang menyelamatkan saya. Menenteng koper dan satu backpack akhirnya saya tiba juga di stasiun MRT Changi dan bersiap menuju MRT Bugis.

Sistem transportasi Singapura memang terintegrasi dengan sangat baik. Kita hanya perlu mengenali spot mana saja yang masuk North-South Line, East-West Line, North-East Line, Circle Line (kuning) dan Downtown Line. Jalur MRT ini sudah mencakup hampir keseluruhan wilayah Singapura.

Saya benar-benar berkejaran dengan waktu. Berbekal Singapore Street Directory App saya berjalan keluar stasiun menuju PARKROYAL Hotel Beach Road. Ternyata cuma 10 menit jalan kaki kok, dekat lah. Beres check in dan sholat di hotel saya langsung ngebut naik MRT menuju Gardens by The Bay. Kalau kesorean, batal deh dapet foto bagus karena minim pencahayaan, ngga asik juga keliling taman sendirian, malem pula. Oh ya, saya ngerasain juga muter-muter di Clarke Quay Mall mencari jalan keluar menuju stasiun bus namun batal karena saya pede banget pengen jalan kaki menikmati pedestrian Singapura yang super nyaman dan bersih. Jauh? lumayan banget sodara-sodara 😀

Drop by at  Marina Bay Sands & Garden by The Bay

7 (2)8 (2)9 (2)10 (2)11 (2)1213 (2)1415 (2)16 (2)

Karena ngga akan sempat naik OCBC SkyWay (jembatan tinggi yang memutari Giant Trees di area taman) saya memutuskan untuk masuk ke Marina Bay Sands untuk mendapat view menarik beberapa landmark Singapura dari atas. Ngga heran banyak yang berebutan selfie dari atas sini, backgroundnya menarik sih. Untuk menuju ke area taman saya hanya perlu turun menggunakan eskalator.

Pemandangan awal yang akan kita temui adalah Heritage Garden yang memperkenalkan ragam budaya Singapura (Malay, India, Tionghoa) lewat patung dan tata letak tamannya. Berjalan ke dalam baru kita akan menemui kubah besar yang jadi spot wisata utama, terdiri dari Flower Dome dan Cloud Forest. Sayang, meski sudah membeli tiket terusan saya hanya bisa melihat berbagai bunga cantik karena kubah hutan hujan tempat air terjun buatan berada sedang dalam perbaikan.

Kalau nanti ada kesempatan mengajak anak-anak ingin juga sih meminjam audio translator agar mereka bisa sekalian belajar mengenali kecantikan alam yang dipamerkan disana. Tak lama berkeliling, saya memutuskan untuk memotret pohon raksasa khas Garden by The Bay dan kembali menikmati sore di Singapura menuju salah satu pusat budaya khas disana.

Exploring Chinatown

1718 (2)19 (2)20 (2)21 (2)22 (2)

Karena sudah terlalu sore, saya langsung mendatangi Chinatown untuk melihat-lihat dengan tujuan akhir sholat di salah satu masjid tertua di Singapura, Masjid Jamae Chulia. Saya melewati para penjual souvenir, mengambil pelbagai foto bangunan tua dan ruko warna-warni, mengintip hostel-hostel (yang sebelumnya saya kenal lewat review di internet) dan kagum dengan keteraturan yang ada. Sayang, saya ngga menemukan Red Dot Museum dan Tawakal Muslim Food (gerai makanan halal paling dicari di Chinatown).

“Assalamualaikum..” suara berat menyapa saya ketika memasuki lokasi Masjid. Seorang Kakek keturunan India Tamil tersenyum ramah sambil menunjukkan arah tempat wudhu dan sholat bagi perempuan. Saya terharu. Rasanya luar biasa bahagia bisa bertemu sesama muslim, beribadah bersama dan menemukan kedamaian hati. Saya benar-benar menikmati sholat disini, tenang dan jauh dari hingar bingar.

Berdiri sejak 1826, masjid ini bisa dibilang salah satu peninggalan bersejarah di Singapura. Uniknya, lokasi masjid berada di tengah-tengah pemukiman etnis Tionghoa, bersebelahan dengan kuil Buddha Tooth Relic dan restoran India Tamil  namun berdiri kokoh menyiarkan Islam dalam damai. Sungguh, saya belajar toleransi (lagi).

Lebih dari sekedar jalan-jalan, kali ini saya belajar untuk mengenal diri sendiri lebih jauh lagi. Saya belajar bersahabat dengan waktu dan menikmati tiap momen yang hadir bersamanya.

Yes, i can’t wait for my next journey..

First Time Visiting Singapore? Find 6 Things You Need to Prepare

Pertanyaan ini saya ajukan saat memiliki kesempatan solo traveling ke Singapura dalam rangka Community Manager Sertification pada pertengahan April lalu. Ada enam hal utama yang saya persiapkan sebelum bepergian, berikut daftarnya:

Where To Stay in Singapore

Source: parkroyalhotels.com

Kriterianya adalah: dekat dengan PARK ROYAL Hotel Pickering Road; tempat saya belajar dan ujian nantinya, dekat dengan stasiun MRT/terminal bus, memiliki banyak spot kuliner halal; since am a moslem traveler dan strategis menuju pusat belanja atau tempat menarik lainnya :D. Kalau mau lebih adventurous dan punya waktu lebih lama sih saya bakal nginep di hostel tapi kali ini saya memilih bermalam di tempat yang lebih private dan nyaman.

Secara lokasi, Chinatown memang jadi pilihan paling tepat karena letaknya bersebelahan dengan Pickering Road. Namun berbagai pertimbangan di awal membuat saya memutuskan untuk menginap di PARK ROYAL Hotel Beach Street yang ada di kawasan Bugis dan dekat dengan Kampung Arab.

Download Singapore Map-Traveling Directory App

street directory app street directory app2 street directory app3  street directory app5

Download Singapore Maps by Streetdirectory here!

Karena ini kunjungan pertama saya ke Singapura, sendirian pula, saya harus mempersiapkan diri dengan baik. Setelah membaca beberapa referensi saya hanya mendownload satu aplikasi Singapore Maps oleh StreetDirectory. Am lucky! this app really helps, a lot 🙂

Peta digitalnya akurat, sangat lengkap dan mudah dibaca (you know that women are attracted visually, right?). Mulai dari info stasiun MRT/terminal bus, artikel yang membahas tempat wisata menarik untuk dikunjungi, lokasi hotel dan tempat ibadah sampai info kuliner halal.

Aplikasi ini tergolong informatif karena kita bisa tahu kapan waktu kedatangan bus, jarak mencapai suatu tempat, sejarahnya sampai spot-spot menarik di sekitar yang bisa dijelajah lebih jauh. Kita seolah berbicara dengan seorang teman yang merekomendasikan banyak hal, seperti naik apa enaknya kalau jalan kesana? makan apa? melihat apa saja? dsb.

Transportation in Singapore

1

Yap, berhubung Singapura sangat terintegrasi saya tak perlu terlalu khawatir tersasar karena petunjuk jalan ada dimana-mana dan memudahkan turis baru macam saya. Petunjuk penggunaan moda transportasi menggunakan bahasa Inggris, Melayu, China dan India. Alternatif transportasi terdiri dari MRT (Mass Rapid Transportation) train, bus, taksi sampai mobil sewa. Saya menantang diri sendiri untuk berpetualang menggunakan MRT dan berjalan kaki. Inilah alasan mengapa saya memutuskan membeli Ez-link Card yang menyimpan sejumlah deposit agar tak repot bolak-balik membeli tiket kereta, bisa refund juga kok.

Prepare Documents

2

Imigrasi Singapura terkenal sangat ketat, selain mental tentunya saya mesti mempersiapkan dokumen perjalanan. Setelah memastikan expiry date di paspor, membawa KTP, bukti pemesanan hotel, kartu nama/ID karyawan dan tanda pengenal lainnya saya juga belajar (lagi) mengisi kartu imigrasi, maklum travel terakhir keluar negeri itu ke Thailand tahun 2011 :D. Selanjutnya, saya hanya perlu menyimpan dokumen sebaik-baiknya agar tidak hilang atau tercecer dimana-mana. Oh ya, ini basic sekali, pastikan data di paspor dan tanda pengenal yang kita bawa sama, istilah salah ketik tidak ada dalam kamus mereka. Ngga lucu kan gara-gara kesalahan secuil tapi fatal malah berujung dideportasi dan dilarang masuk Singapura selama 2 tahun.

Place to Visit in Singapore

4Karena waktu yang singkat dan transportasi utama nantinya adalah kereta, saya memilih mengunjungi tempat-tempat yang dekat dengan stasiun MRT Bugis-Chinatown. Mulai dari iconic landmark sampai pusat belanja. Sebelumnya memang sudah menyiapkan itinerary bahkan beli tiket di jalan-jajan Singapura agar menghemat waktu, maklum saya hanya punya waktu seharian untuk berkeliling. Find out my Amazing Race Stories at Singapore: Part I and Part II

Find The Perfect Outift

5

Berhubung cuaca disana cukup panas dan saya akan banyak berjalan, outfit berbahan nyaman tentu jadi pilihan. Yet am traveling in style now so colorful hijab with lite materials and pink sneakers will complete my look. Kan nanti mau selfie, mesti pakai warna cerah biar tambah OK difoto.

What about you? any other things on your list while doing solo traveling? share with me 🙂

Kawah Ijen, The Spiritual Journey

Saat itu pukul setengah tiga dini hari, mobil elf yang saya tumpangi bersama komunitas Backpacker Indonesia melaju cepat, menembus jalur berkelok khas pegunungan, membiarkan kami yang sedang meringis kedinginan, terguncang-guncang dibelakang. Kawah Ijen become the second destination on my backpacking trip to East Java.

Meet the backpackers

Meet the backpackers

“Kopi luwak dihasilkan disini” ungkap Pak Sugeng, sopir kawakan yang tak henti-hentinya mengepulkan asap kretek demi mengusir dingin. Sayang, kami terpaksa mengubur keinginan mencicipi kenikmatan kopi para bangsawan itu karena harus secepatnya sampai untuk memulai pendakian ke Kawah Ijen.

“Kita ngga bisa naik sekarang” ungkap team leader kami sesampainya di gerbang Kawasan Wisata Kawah Ijen yang terletak di kabupaten Bondowoso, kecamatan Klobang dan kabupaten Banyuwangi, kecamatan Licin.

“Akan sangat berbahaya jika kita berangkat sekarang” ia melanjutkan. Kami lantas diminta beristirahat dalam mobil untuk bersiap mendaki pukul setengah empat pagi. Keraguan sempat menyelimuti, apalagi setelah tahu bahwa saat itu sebenarnya telah dipasang larangan mendaki Kawah Ijen karena aktivitas vulkaniknya sedang meningkat.

“Ah, tanggung” pikir saya dalam hati.

Sayang juga sudah jalan sejauh ini jika saya tak sempat merasakan berada di puncak Kawah Ijen, siapa tahu berkesempatan mengabadikan blue fire, api biru yang menjadi salah satu daya tariknya. Elvian, salah satu rekan backpacker saya mengatakan bahwa fenomena ini hanya ada dua di dunia. Satu di Indonesia dan lainnya di Islandia.

Blue Fire at Ijen Crater | Photo by @Elvianbarus

Blue Fire at Ijen Crater | Photo by @Elvianbarus

“InshaAllah aman” saya coba meyakinkan diri, meskipun aroma belerang makin pekat dan saya tak membawa masker. Niat sudah bulat, berbekal senter dan sling back berisi perlengkapan, tim yang dibagi menjadi dua kelompok beranggotakan kurang lebih 15 orang menanjak pelan. Perjalanan diperkirakan memakan waktu 2 – 2.5 jam.

Meski mengenakan dua lapis jaket dan kerudung, syal, sarung tangan, kaos kaki bahkan kets tebal, saya tetap saja menggigil. Begini nih kalau di kantor biasa duduk manis menatap laptop, jarang berolahraga di akhir pekan dan sekarang malah ingin naik gunung, tubuh pun terasa berat. Belum lima belas menit berjalan, rombongan kelompok kami terpaksa berhenti karena beberapa anggota kelelahan. Pola ini terus berlanjut sampai akhirnya kelompok lain dipersilakan mendahului dan dua anggota kami menyerah dengan napas tersengal-sengal. Sempat juga sih, tergoda kembali ke mobil dan ingin berhenti mendaki. Saat itu perut terasa mual, tenggorokan saya terasa kering dan tercekat akibat aroma belerang. Menghadapi jalur pendakian yang makin curam, napas saya berangsur pendek, terbatuk-batuk hingga sempat asma. Tak hanya itu, kepala saya pun ikut berputar, lutut ngilu dan gemetaran karena lama tak mendaki.

I truly want to give up that time. Kawah Ijen is so challenging, how can I handle it?

How can I ensure myself that it’s worth to try? Is it what I’m looking for?

And then I realized that this is more than climbing activities, this is a spiritual journey for me

Defeat my own ego, take risk and receive the best experience…feel alive 

Feel amaze!

Saya berhenti sebentar untuk meluruskan kaki sambil memikirkan cara untuk kembali memotivasi diri. Saya memutuskan berjalan sambil sesekali tersenyum, membantu mengingatkan diri bahwa hasilnya akan sepadan nanti. Setidaknya bisa menaklukan satu impian, sholat subuh diatas puncak pegunungan. Alhamdulillah, kurang lebih pukul lima pagi kami telah sampai di tujuan. Jalur menurun yang terjal penuh retakan itu terhampar di hadapan.

Ijen Crater track

Ijen Crater track

Cerukan-cerukan serupa tanah yang habis dihantam meteor besar berada di sisi kiri dan jurang penuh akar tanaman hangus dominan di sisi kanan. “Subhanallah” saya merasa sangat kerdil dihadapanNya, merasa malu akan dosa dan kerap kali mengingkari nikmatNya.

The Ijen Crater

The Ijen Crater

Cliff aside Ijen Crater

Cliff aside Ijen Crater

“Allahu Akbar!” I cried when I first raised my hand to say takbeer and start the morning prayers at the top of Ijen Crater. This is one of the spectacular moment in my life, feel close to Allah and being grateful surrounded by his magnificient signs

Morning prayer on Ijen Crater

Morning prayer on Ijen Crater

Enjoying dawn on Ijen Crater

Enjoying dawn on Ijen Crater

Morning universe :)

Morning universe 🙂

The Ijen Crater

The Ijen Crater

Go! and chase your dreams | Photo by @MonickaSyukriya

With Backpacker Indonesia

Pukul 7 pagi, setelah disuguhi landscape luar biasa dari puncak, saya dan teman-teman memutuskan untuk turun dan melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalur kami tak henti-hentinya berdecak kagum, memandangi vegetasi, serangga, bebatuan hingga penambang sulfur yang menjadi bagian keseharian Kawah Ijen.

Ijen Crater Track

Vegetation around Ijen Crater

Vegetation around Ijen Crater

I found flowers

I found flowers

The private moment

The private moment

Land of Ijen Crater

Land of Ijen Crater

Sulfur Miner

Sulfur Miner

Finally, it’s all worthed, the ups and downs, views, friends and even the cold air. Hopefully, Kawah Ijen is just a beginning to another marvelous climbing journey. I leave traces and always excited to find new places 🙂

Let's explore more

Let’s explore more

Madakaripura, between Legend and Adventure

“Kita lihat dulu kondisinya. Jika hujan makin deras, akan terlalu berbahaya ke Madakaripura” ungkap Dedhy, team leader kami saat mobil Elf yang ditumpangi sedang berjuang menanjak jalanan yang lebih mirip selokan banjir itu. Saya terus berpegangan pada jok mobil sambil sesekali menatap keluar jendela, mengumpulkan semangat yang sempat luntur diguyur hujan. Tak beberapa lama, hal yang saya takutkan terjadi juga, dari arah berlawanan sebuah truk siap melintas, saya pun menahan napas, mengingat jarak mobil yang hanya beberapa jengkal dari jurang.

I've got this great view along the way to Madakaripura Waterfall

I’ve got this great view along the way to Madakaripura Waterfall

Madakaripura waterfall has become the first destination on my backpacking trip to East Java. Waktu menunjukkan pukul setengah dua siang ketika elf berhenti dan air terjun tertinggi kedua di Indonesia itu dinyatakan aman. Harap maklum, pada musim penghujan pengunjung dilarang mendekat karena wilayah ini memang rawan longsor dan banjir. Sesaat kemudian, elf didekati para penduduk lokal yang berlomba-lomba menawarkan jas hujan plastik warna-warni. 25 ribu rupiah untuk 3 jas hujan adalah harga terbaik yang disepakati. 

Arca Mahapatih Gajahmada, Air Terjun Madakaripura

Mahapatih Gajahmada Statue, Madakaripura Waterfall

“Mahapatih Gajah Mada bersemedi disini” ungkap seorang pemuda pemandu ketika saya menanyakan apa sebenarnya keistimewaan Madakaripura. “Air disini suci” lanjutnya lagi, hingga saat ini umat Hindu dari suku Tengger Bromo kerap menggunakannya dalam rangkaian upacara. Konon kabarnya, air suci (tirta sewana) Madakaripura juga berkhasiat memberikan kesembuhan dan membuat awet muda.

Track menuju Air Terjun Madakaripura

Challenging Track to Air Terjun Madakaripura

Jalan menanjak dan menurun serta sungai berbatu adalah kondisi yang harus dihadapi saat mengunjungi destinasi wisata yang terletak di desa Sapeh, kecamatan Lumbang, Probolinggo, Jawa Timur ini. Tas selempang jelas menjadi pilihan saya, praktis menyimpan kamera pocket, 2 smartphone, dompet, handuk kecil dan air minum. Beda cerita jika saya membawa tripod, kamera SLR atau DSLR yang butuh upaya ekstra saat membawanya.

Facility around Madakaripura Waterfall

Facility around Madakaripura Waterfall

Bicara tentang fasilitas, biaya masuk Air Terjun Madakaripura terbilang murah, hanya Rp 3.000. Tarif parker Tarif pemandu bervariasi, antara Rp 20.000 – Rp 50.000. Jika ingin menggunakan kamar mandi, cukup keluarkan biaya Rp 2.000/orang dan Rp 1.000 untuk membeli plastik kresek penampung pakaian basah.

Ready for Madakaripura Waterfall?

Ready for Madakaripura Waterfall?

The two cliff as "welcome gate" to Madakaripura Waterfall

The two cliffs as “welcome gate” to Madakaripura Waterfall

Bukit pepohonan, suara serangga hutan, alur deras sungai, gerimis dan aroma lembab tanah menemani perjalanan. Saya tak henti-hentinya mengucap syukur, khususnya saat melewati 2 punggungan curam yang seolah menjadi “gerbang selamat datang”. Pengunjung mau tidak mau harus masuk menembus terpaan air dari atas punggungan. Jadi, tak hujan pun pengunjung dipastikan akan basah di bagian ini.

United color of raincoat :)

United color of raincoat 🙂

Saya tiba juga di Madakaripura. Bentuknya yang serupa ceruk tabung raksasa dikelilingi guyuran air berhasil memerangkap saya dengan kekaguman. Ketinggian air terjun utama mencapai kurang lebih 200 meter, dibawahnya terdapat kolam penampung air sedalam 7 meter, sungguh saya merasa sangat kecil disana.

Madakaripura, finally! the second highest waterfall in Indonesia

Madakaripura, finally! the second highest waterfall in Indonesia

Madakaripura Waterfall looks like giant tube

Madakaripura Waterfall looks like giant tube

Me and Madakaripura Waterfall

Me and Madakaripura Waterfall

Kesempatan tak boleh disia-siakan. Saya dan petualang lainnya, masing-masing mencari posisi terbaik untuk mengabadikan Madakaripura. Saya pun mencoba menutup mata sesaat, mendengar gemuruh air selagi berselimut hawa dingin. Bisa jadi inilah yang dirasakan Mahapatih Gajah Mada, ketenangan dan rasa takjub luar biasa mengingat kuasaNya.

Backpacking, A Birthday Gift

“Go! and have some adventure” kalimat ini meluncur dari suami saya selang beberapa minggu sebelum ulang tahun saya tiba. Ia tahu bahwa selain menulis dan bicara soal parenting, traveling ada dalam daftar passion saya. Ia menyadari fakta bahwa istrinya telah menjadi seorang ibu yang terus berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan waktu untuk keluarga dan mengesampingkan beragam keinginan, termasuk pergi melancong sendirian.

Saya masih ingat, suami jugalah yang mendorong saya menerbitkan The Motherhood Project. Buku berisi pengalaman-pengalaman ”kencan” saya bersama putri tercinta kami, Ayesha Mikayla. Yes, I’m a working mom who’s always find ways to enjoy motherhood with great energy called love. Ia memahami benar peran dan tanggung jawab saya sebagai seorang istri dan ibu, namun di sisi lain ia tahu bahwa saya sesekali membutuhkan waktu untuk me-recharge energy.

"Go! and have some adventure"

“Go! and have some adventure”

Sejak bergabung dengan Group Muslimah Backpacker, saya seringkali bercerita kepadanya tentang pengalaman teman-teman muslimah lainnya menjelajah banyak tempat, tak jarang sambil membawa anak mereka. Ia juga kerap memperhatikan koleksi buku-buku saya yang belakangan didominasi topik jalan-jalan. Maka ketika suami mengungkapkan niatannya menghadiahkan restu jalan-jalan untuk ulang tahun saya, air mata haru menetes. Sebut itu drama, but I really feel surprised at that time. Tanpa diminta, ia malah menyarankan saya untuk bepergian, mempersilakan saya menikmati hari istimewa sambil menjelajah tempat-tempat yang saya sukai. I am very lucky to have him in my life.

My beloved husband and sweet daughter :*

My beloved husband and sweet daughter :*

Bisa jadi saya berjodoh dengan Bromo, ketika rencana bepergian bersama Muslimah Backpacker batal akibat benturan jadwal, tak disangka-sangka saya malah mendapatkan kesempatan mengunjungi Bromo bersama sahabat baik saya, i was so excited to explore East Java on a 3 days backpacking trip (March 29-31, 2013), visit Madakaripura, Baluran, Ijen and Mount Bromo.

The Exotic Destination: Madakaripura, Baluran, Kawah Ijen & Bromo Mountain

The Exotic Destination: Madakaripura, Baluran, Kawah Ijen & Bromo Mountain

Kelihatannya semua berjalan lancar, padahal sempat juga rencana backpacking ini batal. Awal perjalanan menuju Surabaya sebagai titik pertemuan juga bisa dibilang penuh cobaan. Sehari sebelum trip, saya, seorang sahabat dan satu orang backpacker lainnya janjian ngumpul di Terminal Lebak Bulus untuk naik bus antar kota Pahala Kencana jam 9 pagi. Tiga jam menunggu busnya ngga datang juga, katanya rusak dan sedang diperbaiki. Saya sempat emosi mengingat kami harus tepat waktu sampai di Surabaya karena akan berangkat lagi ke Madakaripura. “Kenapa ngga diganti bus lain aja sih, emang cuma satu yang menuju Surabaya?” rutuk saya dalam hati. Pasca sholat Dzuhur di terminal, kami kembali memaksa manajemen bus untuk mengantarkan kami ke tempat tujuan. Akhirnya kami bergabung dengan penumpang lainnya naik bus dengan rute Jakarta-Denpasar, “biarlah, yang penting bisa transit dan sampai” begitu pikir kami. Baru sebentar merasakan tidur, tiba-tiba kami terbangun karena AC mati dan Bus terpaksa berhenti di pinggir jalan.

Kecurigaan saya pun berlanjut saat melihat kondisi sekeliling, kayaknya kok saya kenal daerah ini ya. Bener banget, rupanya ini jalur menuju Terminal rawamangun.  Oalah, rasanya pengen nangis begitu tahu kenyataan bahwa kami sengaja diturunkan disini untuk dioper ke bus Pahala Kencana yang lain, yang menuju Surabaya, yang katanya akan berangkat jam 3 sore, itu pun belum pasti. Kondisi terminal yang padat, cuaca panas dan kondisi lapar akibat belum makan siang seolah melengkapi penderitaan. Sambil mengunyah bakso di warung seberang jalan, saya menelepon suami, ngadu ceritanya. Ia pun menyarankan kami untuk naik kereta. Memang menambah biaya, tapi jadwalnya lebih bisa diandalkan. Beruntung, masih tersedia 12 seat untuk kereta api Sembrani tujuan Jakarta-Pasar Turi, berangkat  jam setengah delapan malam dan diperkirakan tiba di Surabaya jam setengah enam pagi. Kami langsung menuju Gambir dengan taksi dan dan ngga berhenti menertawakan diri sendiri, mengingat perjuangan awal ngetrip yang nggemesin itu.

Dalam perjalanan, ponsel saya tak henti-hentinya bergetar, notifikasi FB, Twitter, BBM, Whatsapp dan SMS berisi ucapan selamat ulang tahun terus bermunculan. Mama, adik-adik dan suami saya pun menyempatkan diri menelepon dan mendoakan perjalanan saya. Alhamdulillah, saya benar-benar diberkahi Allah karena dikelilingi orang-orang yang saya sayangi.

29 Maret 2013

Sunrise on a journey to my new age :)

Sunrise on a journey to my new age 🙂

Kereta melaju cepat, hingga tiba saatnya mengantarkan Subuh yang kemudian berganti deretan hijau sawah berlatar belakang pegunungan. Pagi itu saya menjejakkan langkah di Stasiun Pasar Turi, memulai usia baru sambil menyesap hawa pagi. Kini, nikmat apa lagi yang hendak saya dustakan? 🙂

Celebrate Birthday & Holiday in Phuket

Saya benar-benar beruntung, setelah mendapat pekerjaan baru di salah satu konsultan komunikasi terkemuka di Jakarta, saya juga mendapat kesempatan untuk berlibur (plus menikmati ulang tahun) di Phuket, am totally excited since this will be my first time traveling abroad, yeaaaaaaay 😀

Day 1: Patong Beach

Mosque in Phuket Thailand-travel-djghinaIbis Hotel Patong Phuket Thailand-travel-djghinaIbis Hotel Patong Phuket Thailand2-travel-djghina

Thai Massage-travel-phuket-djghina

Jumat, 18 Maret 2011 saya dan rekan-rekan sekantor berangkat menuju negeri Siam, Thailand. Serunya lagi, The Mavchics-yap, ini cara kami menyebut para perempuan tangguh di kantor-kompak mengenakan baju warna-warni, mengalakan Mavbros dalam hal penampilan.

Anyway, kami tiba di bandara Phuket malam hari dan langsung menuju ke Phuket Seafood Restaurant begitu urusan imigrasi selesai untuk memuaskan perut yang keroncongan. Ini adalah pengalaman pertama saya mencoba menu udang mentah yang dikucuri air lemon dan dimakan dengan sambal mangga, sedapnya mantap!.

Kebetulan kami menginap di Hotel Ibis Patong yang strategis untuk kemana-mana. Berjalan ke arah kanan dari hotel kami menemui deretan toko-toko cinderamata dan kafe-kafe kecil di Bangla Road (including bar with ladyboy and Phuket nightlife). Sebaliknya, ketika kami menyusuri jalan di sebelah kiri, yang terdengar adalah deburan ombak Pantai Patong. Untuk menghilangkan lelah sehabis berjalan, saya dan beberapa teman mencoba Thai Massage yang legendaris ituh, harganya murah dan pijitannya ajib (mungkin kurang cocok untuk yang baru pertama kali mencoba pijat :p).

Day 2, Phi-Phi Island

Maverick Indonesia Crew-The MavchicsPhi Phi Island Phuket Thailand-travel-djghinaPhi Phi Island Phuket Thailand2-travel-djghinaSnorkeling at Phi Phi Island Phuket Thailand-travel-djghina

Phi Phi Don Phuket Thailand-travel-djghinaPhi Phi Don Phuket Thailand2-travel-djghinaPhi Phi Don Phuket Thailand3-travel-djghina

Rasanya ngga lengkap traveling ke Phuket tanpa mencoba tur seharian menjelajah Phi-Phi Island. Usai berfoto di Boat Lagoon Marina kami langsung diuji nyali dan fisiknya saat menaiki speed boat berkecepatan lebih dari 120 km/jam melawan ombak tinggi.

Tujuan pertama adalah Maya Beach yang populer sejak Leonardo DiCaprio syuting film The Beach. Pegunungan Limestone yang mengandung calcium carbonate kabarnya menjadi penyebab air laut disini berwarna hijau turqoise. Gosh! it’s really an exotic view.

Selanjutnya, saya mencoba memberanikan diri untuk snorkeling (padahal panik karena ngga bisa berenang, duh!) saat boat kami tiba di Loh Sama Bay. Air yang jernih dan warna-warni ikan laut terlalu indah untuk dilewatkan, sayang banget kan sudah jauh-jauh kesini.

Finally, kami menuju Phi-Phi Don – pulau terbesar dalam kepulauan Phi-Phi dan merupakan satu-satunya pulau dengan penduduk permanen – untuk makan siang bersama. Oh ya, sempat mampir juga ke Pulau Khai untuk bersantai sejenak. Karena panas banget disana, saya hanya sibuk terjemur dan memperhatikan para turis yang sibuk sunbathing atau menikmati es krim. Deretan kursi panjang dengan payung berwarna-warni, yang disewakan dengan harga 150 Baht (1 Baht = Rp 292,-) untuk sepasang kursi menjadi pemandangan yang menarik. Bagi yang ingin berenang mesti agak berhati-hati ya karena disini penuh karang dan bulu babi.

Setelah seharian di pantai, malamnya kami menikmati seafood khas Thailand di Phong Phang Restaurant. Selain mengumumkan Maverick of The Year (penghargaan tahunan bagi individual yang menunjukan kontribusi dan performa baik), ritual lain di outing tahunan Maverick adalah selebrasi bagi mereka yang berulang tahun. Lucky me, it happens in March, together with Koh’ Herry and Sharron, am happy to receive bday wishes and special gift surrounded by friends 😀

Acara senang-senang berlanjut, kami menikmati waktu bebas untuk berbelanja atau menghabiskan waktu di area Patong dan Bang La. Saya sukses menawar beberapa souvenir 200-250 Baht lebih murah untuk dibawa pulang. Tips dari teman, hati-hati dengan ladyboy yang menawarkan foto bersama, karena setelahnya ia akan menagih 100 Baht dari Anda.

Last Day, Wat Chalong Temple & Big Budhha

Wat Chalong Temple Phuket Thailand-travel-djghinaWat Chalong Temple Phuket Thailand2-travel-djghinaWat Chalong Temple Phuket Thailand3-travel-djghina

Big Buddha Phuket Thailand-travel-djghinaBig Buddha Phuket Thailand2-travel-djghina Junceylon Mall Phuket Thailand-travel-djghina

Maverick Crew in Phuket (source: maverick.co.id)

Hari terakhir kami mengunjungi Wat Chalong Temple-salah satu dari 29 kuil penting bagi umat Budha di Thailand. Udara yang panas tak menyurutkan semangat kami menaiki anak tangga untuk melihat patung besar Big Buddha (yang sayangnya sedang dalam konstruksi). Menunggu waktu kepulangan, kami sempat mampir ke Jungceylon, mall besar yang dipenuhi para penjual souvenir. Berbelanja disini lebih nyaman karena full AC, banyak penjual makanan dan barangnya variatif. Setelah tawar menawar, saya sukses memborong tas manik-manik, makanan ringan sampai Tshirt bergambar gajah Thailand.

Seruuuuu, sampai ngga sadar waktu berbelanja sudah habis dan kami harus segera berkumpul untuk berangkan ke Bandara dan pulang ke Indonesia. Jika diberi kesempatan untuk eksplorasi Thailand lebih jauh, saya sudah mengincar Kanchanaburi dan Pattaya, yeaaaay, let’s optimist on that 🙂